'Sekolah Kandang Kerbau' yang Jadi Viral di Media Sosial

'Sekolah Kandang Kerbau' yang Jadi Viral di Media Sosial

Kondisi Sekolah Dasar Negeri Sadah Serang Banten. (foto - KPAI)

Serang - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengunjungi Sekolah Dasar Negeri Sadah, Serang Banten pada Kamis 7 Desember. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat kondisi dan fakta yang sebenarnya SDN Sadah.
 
"Apakah sesuai dengan yang ditulis Ananda D (Devi) dalam suratnya atau malah kondisinya lebih memprihatinkan, jika didasarkan pada delapan standar nasional pendidikan," kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti dalam siaran persnya, Jumat (8/12/2017).
 
Menurut Retno, hasil dari kunjungan tersebut, KPAI menilai kondisinya memang sangat memprihatinkan. Sarana dan prasarana SDN Sadah jauh dari standar minimun, jika didasarkan pada delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP).
 
"Misalnya ukuran ruang kelasnya yang rata-rata hanya 4 x 4 meter berlantai plester, WC (toilet) hanya satu untuk seluruh siswa, guru dan karyawan serta tidak memiliki ruang perpustakaan. Ruang guru juga berada di ruangan yang ukurannya sekitar 2 x 4 meter dengan hanya beralaskan karpet berwarna hijau, tak ada meja dan kursi. Kapasitas listrik sekolah hanya 450 watt," sebut Retno.
 
Disebutkan, seluruh ruang kelas kecuali ruang kelas enam merupakan bangunan semi permanen, dengan bahan bangunan seadanya. "Atap sekolah yang terbuat dari asbes menjadikan ruangan kelas menjadi sangat panas ketika matahari meninggi, terutama ruang kelas 4 (empat) yang atapnya hanya berjarak sekitar 2 jengkal dari kepala orang dewasa," tegas Retno.
 
Selain itu, ada kandang itik milik warga yang berada tidak jauh dari sekolah yang menimbulkan bau kurang sedap, sehingga proses pembelajaran tidak kondusif. Bahkan, karena keterbatasan ruang awalnya ruang kerja kepala sekolah untuk sementara menumpang di ruang tamu warga yang disekat. 
 
Warga sekitar memang bergotong-royong membantu berjalannya sekolah, seperti meminjamkan tanah wakaf untuk ruang kelas 6, dan gudang padi untuk ruang kelas 4 dan ruang guru."Sebagian tanah dan lapangan sekolah juga dipijamkan warga. Komputer dan printer sekolah diletakkan di rumah salah satu guru yang kebetulan jaraknya dekat dengan sekolah, sehingga semua administrasi yang perlu pengetikan dilakukan di rumah itu".

Seperti diketahui, sebelumnya salah seorang siswa kelas enam SD bernama Devi Marsya menulis surat 'Sekolahku Bekas Kandang Kerbau.' Surat tersebut akhirnya menjadi viral dan menjadi perbincangan dan pemberitaan di berbagai media massa. (Jr.)**
.

Categories:Pendidikan,
Tags:,