"Tersesat" di Pulau Galang

Kuburan Eks Pengungsi Vietnam. (Foto: Net)

Muhammad Al Fatih, bocah berusia satu setengah tahun itu berteriak sambil menunjuk-nunjuk ke arah semak belukar dekat pintu masuk kawasan wisata Pulau Galang.
 
Menggunakan bahasa "planet", lantaran belum bisa bicara sempurna, membangkitkan naluri kedua orang tua Fatih untuk mencoba memahami celoteh, bahasa tubuh dan pandangan matanya yang terus mengamati semak-semak pemohonan.
 
Barulah kedua orang tuanya tersadar, apa yang ditunjuk Fatih ke semak pepohonan lebat tersebut dimaksudkan adalah gerombolan kera ekor panjang, binatang lucu, tengah bercanda dengan sesamanya. Mulainya terlihat satu ekor. Lambat laun ketika mobil yang dikemudikan penulis makin masuk ke dalam kawasan wisata eks camp pengungsian Vietnam tersebut, gerombolan kera terlihat makin banyak.
 
Beruntung ketika memasuki kawasan eks pengungsian manusia perahu, pekan pertama awal November 2014, itu tidak turun hujan. Cuaca saat itu memang tengah mendung, sedikit rada gelap. Pemandangan gerombolan kera dan suara burung membuat perjalanan terasa "asing", bagai bukan berada di negeri sendiri. Maklum, selain sepanjang jalan banyak dijumpai gerombolan kera atau monyet juga tempat pertama yang dikunjungi adalah rumah ibadah tua dan kurang perawatan, yaitu kelenteng atau Vihara Quan Am Tu bagi warga eks Vietnam yang kini jarang digunakan lagi.
 
Fatih makin senang menyaksikan gerombolan kera bertingkah, meloncat dari pohon ke pohon rindang setelah diberi roti dan makanan. Kumpulan monyet makin mendekat. Akan tetapi, karena makan habis dan tak diberi makanan lagi, binatang yang memiliki nama asing "long-tailed macaqu" itu pun pindah ke tempat lain menunggu pengunjung lain memberi makan.
 
Di dalam kawasan itu juga ada kelompok kijang, yang dikurung dalam satu area. Jumlahnya memang masih sedikit, sekitar 10 ekor. Kijang-kijang itu terlihat kurus, maklum kurang perawatan. Hal itu bisa jadi disebabkan pengelola kawasan tersebut belum profesional memelihara binatang. Terlebih lagi, jumlah kunjungan ke kawasan yang kini dijadikan objek wisata tersebut masih minim. Otomatis, perawatan dan pemeliharaan untuk hewan pun belum bagus.
 
 
Akan tetapi, yang jelas Fatih makin senang berada di kawasan itu. Bocah ini tak memperdulikan rasa takut yang menghinggapi pengunjung lainnya ketika berada di lokasi pemakaman camp pengungsian Vietnam tersebut. Memang sudah tidak perlu lagi ada rasa yang ditakutkan di bekas camp pengungsian tersebut. Sebab, cerita "pilu" adanya warga bunuh diri sudah terlalu lama. Juga cerita wabah dan penyakit menular di kawasan itu sudah tidak ada lagi.
 
Sekali ini Fatih berteriak-teriak ketika memasuki museum camp Vietnam. Lagi-lagi, dengan menggunakan bahasa "planet" yang dimiliki dan sulit dipahami orang sekitar, dia menunjuk sepeda ontel tua dan minta kepada kedua orang tuanya untuk duduk di sepeda tersebut. Tentu saja permintaan itu dituruti. Dibantu neneknya Sulistyowati yang bermukim di Jakarta, Fatih duduk di sadel sepeda kuno ambil bergumam dan mengeluarkan suara "ngeeenggg".
 
Setelah itu, dia turun dan berlari ke arah pintu dan masuk ke dalam museum tersebut. Di dalam, dia bergabung bersama rombongan turis lagaknya bagai orang dewasa menyaksikan sejumlah foto dan peralatan dapur dan lainnya. Di situ, dipajang sejumlah foto pejabat yang mengunjungi Pulau Galang, termasuk presiden kedua RI Soeharto dengan para petinggi negeri ini beberapa tahun silam.
 
Fatih terkekeh-kekeh, tertawa menyaksikan barang langka dan bersejarah di ruang tersebut karena dianggap lucu seperti mainannya di rumah.
 
Camp Vietnam atau juga biasa disebut Kampung Vietnam, terletak di Pulau Galang. Disebut demikian karena dahulunya merupakan tempat pengungsi Vietnam yang dikenal dengan sebutan manusia perahu untuk mencari perlindungan atau suaka pascakonflik internal antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan sekitar 1979. Meski kawasan dekat pantai, udaranya sejuk, seperti berada di kebun raya.
 
Dalam area seluas sekitar 80 hektare ini tersebar benda-benda dan bangunan-bangunan yang memberikan gambaran kehidupan para pengungsi dengan sejarah yang memilukan itu.
 
Camp Vietnam digunakan pada tahun 1979--1996. Kawasan tersebut sudah beberapa tahun dikelola menjadi tempat wisata sejarah oleh BP Batam. Lokasi camp tersebut tepatnya berlokasi di Pulau Galang, selatan Pulau Batam dengan jarak lebih kurang 70 km bisa ditempuh dengan perjalanan darat dari Batam sekitar satu jam melalui Jalan Transbarelang yang dibangun Otorita Batam (sekarang BP Batam) yang waktu itu dipimpin oleh B.J. Habibie.
 
Saksi Sejarah "Camp Vietnam merupakan saksi sejarah penanganan pengungsi di Indonesia. Jadi, harus dijaga agar tetap lestari meski saat ini sudah ditinggalkan penghuninya mencari suaka ke sejumlah negara dan sebagian dikembalikan ke negara asal," kata Kasubdit Humas dan Publikasi BP Batam Ilham Eka Hartawan.
 
Deasy Elsara dalam jejak sejarah manusia kapal di Kampung Vietnam mengungkap di laman pariwisata bahwa saat perang Vietnam (1979), ratusan ribu penduduk Vietnam Selatan mengungsi dari negaranya demi alasan kemanan.
 
Mereka mengungsi dengan menggunakan perahu-perahu kayu sederhana yang kondisinya memprihatinkan karena dalam satu perahu bisa ditempati 40--100 orang. Berbulan-bulan para manusia perahu ini terombang-ambing ombak mengarungi perairan Laut Cina Selatan sejauh ribuan kilometer tanpa tujuan yang jelas dengan harapan mendapat perlindungan dari negara lain. Sebagian dari mereka ada yang meninggal di tengah lautan dan sebagian lagi berhasil mencapai daratan, termasuk wilayah Indonesia.
 
Pengungsi pertama yang mendarat di Indonesia adalah di Kepulauan Natuna bagian utara pada tanggal 22 Mei 1975 sebanyak 75 orang. Pengungsi yang jumlahnya masih sedikit ini awalnya ditampung oleh masyarakat setempat, hingga akhirnya perahu-perahu pengungsi lain juga berdatangan, termasuk di Kepulauan Anambas dan Pulau Bintan.
 
Gelombang pengungsi ini menarik perhatian Komisi Tinggi Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) dan pemerintah Indonesia. Setelah mengevaluasi beberapa pulau di sekitar Pulau Bintan, berdasarkan alasan kemudahan menyalurkan pengungsi ke negara ketiga, area yang relatif cukup luas untuk menampung 10.000 pengungsi, kemudahan isoler, serta kemudahan akses, akhirnya diputuskanlah Pulau Galang, tepatnya di Desa Sijantung, Kepulauan Riau, sebagai tempat penampungan sementara bagi para pengungsi.
 
Di Pulau Galang para pengungsi Vietnam meneruskan hidupnya hingga 1995, sampai akhirnya mereka mendapat suaka di negara-negara maju yang mau menerima mereka atau pun dipulangkan ke Vietnam. Para pengungsi tersebut hidup terisolasi di dalam area seluas 80 hektare dan tertutup interaksinya dengan penduduk setempat. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengawasan, pengaturan, penjagaan keamanan, sekaligus untuk menghindari penyebaran penyakit kelamin Vietnam Rose yang dibawa para pengungsi.
 
Untuk mencapai Camp Vietnam, bisa ditempuh dalam waktu sekitar 60 menit menggunakan kendaraan bermotor dari pusat kota Batam menuju Pulau Galang dengan melalui Jembatan Barelang. Jembatan Barelang yang namanya merupakan singkatan dari Batam, Rempang, dan Galang ini terdiri dari enam jembatan yang menghubungkan pulau-pulau kecil.
 
Diperlukan waktu sekitar satu jam yang diiringi pemandangan lautan biru yang indah tiap kali berada di atas jembatan hingga akhirnya tiba di Pulau Galang.
 
Dari jalan utama Pulau Galang, di sebelah kiri akan terlihat gapura berbentuk perahu bercat merah dan putih sebagai gerbang masuk Camp Vietnam. Hati-hati terlewat karena letaknya kurang mencolok. Dengan membayar di loket masuk sebesar Rp5.000,00 per mobil dan Rp3.000,00 per orang, perjalanan tapak tilas bersejarah ini pun dimulai.
 
Jalan sepi berkelok-kelok membelah rimbunnya pepohonan di kanan-kiri yang juga dihuni monyet-monyet jinak. Silih berganti bangunan-bangunan bersejarah akan dilewati. Salah satunya yang terdekat dari gerbang masuk adalah Humanity Statue. Monumen kemanusiaan ini berbentuk patung perempuan dalam keadaan terkulai. Monumen ini didirikan untuk mengenang tragedi kemanusiaan Tinh Han Loai, seorang wanita yang bunuh diri karena malu setelah diperkosa oleh sesama pengungsi.
 
Pemerkosaan bukanlah satu-satunya tindakan kriminal yang dilakukan oleh para pengungsi. Beberapa dari mereka juga mencuri, bahkan membunuh. Oleh karena itu, sebuah penjara juga dibangun di tempat ini yang digunakan untuk menahan para pengungsi yang melakukan tindakan kriminal dan yang mencoba melarikan diri.
 
Tidak jauh dari Humanity Statue, terdapat pemakaman Nghia-Trang Galang. Sekitar 503 pengungsi dimakamkan di sini. Kebanyakan dari mereka meninggal akibat penyakit yang diderita selama berlayar berbulan-bulan di laut lepas. Pemakaman itulah yang membuat para kerabat yang telah kembali ke Vietnam atau yang telah mendapat suaka di negara lain untuk bermukim masih kerap datang ke Pulau Galang untuk berziarah.
 
Selepas pamakaman Nghia-Trang Galang, dapat dilihat Monumen Perahu. Perahu-perahu ini adalah sebagian perahu asli yang benar-benar digunakan para pengungsi untuk mengarungi Laut Cina Selatan. Dan, dalam perahu yang kecil ini, dipaksakan untuk memuat 40--100 orang selama berbulan-bulan.
 
Tak terbayangkan bagaimana para manusia perahu ini bisa bertahan untuk hidup. Perahu-perahu ini pernah dengan sengaja ditenggelamkan, bahkan sebagian perahu dibakar oleh para pengungsi sebagai bentuk protes atas kebijakan UNHCR dan pemerintah Indonesia yang ingin memulangkan sekitar 5.000 pengungsi.
 
Lima ribu pengungsi ini dipulangkan karena mereka tidak lolos tes untuk mendapatkan kewarganegaraan baru. Sepeninggal para pengungsi ini pada tahun 1995, Pemerintah Otorita Batam mengangkat perahu-perahu yang ditenggelamkan ke daratan, diperbaiki, dan dipamerkan ke publik sebagai benda bernilai sejarah.
 
Tempat-tempat ibadah juga tersedia di dalam area pengungsian ini. Terdapat vihara, musala, gereja Kristen, serta gereja Katolik. Semua bangunan tersebut masih orisinal. Hanya vihara yang baru saja diperbaiki dan dicat ulang sehingga terlihat mencolok di antara bangunan-bangunan tua lainnya.
 
Keadaan ini berbanding terbalik dengan gereja Kristen yang hampir tidak terlihat dari jalanan karena yang tersisa hanya tinggal puing yang tersembunyi di balik pepohonan, sedangkan bangunan musala dan gereja Katolik masih berdiri tegak. Namun, yang paling menarik adalah Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem karena ukurannya yang lumayan tinggi menjulang.
 
Kasubdit Humas dan Publikasi BP Batam Ilham Eka Hartawan menyatakan bahwa pada tahun 2013 Badan Pengusahaan Batam memugar bekas pusat penampungan pengungsi Vietnam (Camp Vietnam) di Pulau Galang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau itu. Pengerjaan meliputi perbaikan gedung Rumah Sakit PMI, pemugaran tempat ibadah dan gedung pusat aktivitas pemuda. Harapannya, ke depan, generasi muda tidak melupakan sejarahnya di bumi pertiwi ini. (AY)
.

Categories:Wisata,
Tags:wisata,