2 Lokalisasi Berusia Puluhan Tahun di Kuta Selatan Disegel

2 Lokalisasi Berusia Puluhan Tahun di Kuta Selatan Disegel

Dua lokalisasi yakni Aseman dan Gunung Lawu di wilayah Kuta Selatan disegel. (foto - ist)

Kuta - Dua tempat lokalisasi "Aseman" dan "Gunung Lawu" di wilayah Kuta Selatan yang sudah ada sejak tahun 1990-an akhirnya ditutup. Dari dua lokasi itu sedikitnya ada 52 wisma yang disegel, yang dihuni oleh ratusan perempuan sebagai pekerja seks komersial (PSK).
 
Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta didampingi wakilnya terjun langsung melakukan penyegelan terjadap dua lokalisasi itu, yang di Jalan Baypass Ngurah Rai Kelurahan Benoa Kecamatan Kuta Selatan Badung, Selasa (19/12/2017) sore.

Giri Prasta menyatakan, penyegelan tempat prostitusi itu untuk menyelamatkan generasi muda Badung, agar terhindar dari perilaku negatif dan menimbulkan penyakit masyarakat. Penutupan lokalisasi di dua tempat itu berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 73 Tahun 2015 dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016, tentang ketertiban umum dan ketentraman masyarakat.

"Penutupan lokalisasi dilakukan mengingat dampak yang ditimbulkan ke depannya sangat besar, seperti penyebaran penyakit HIV/AIDS yang dikhawatirkan merusak generasi muda Badung. Tidak ada toleransi lagi, tempat prostitusi itu kami tutup," katanya.

Ia menyatakan, penutupan lokalisasi telah dilakukan sesuai prosedur dan SOP dengan memberikan surat peringatan tiga kali, lalu dilakukan penindakan tegas. Bahkan, hal itu didasari pada peringatan sebelumnya sejak dua bulan lalu agar mengosongkan lokasi namum diindahkan.

Usai ditutupnya lokasi prostitusi itu, maka tempat itu akan dialihfungsikan. Antara lain dijadikan tempat pusat perekonomian masyarakat agar tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. "Secara tegas kalau nantinya ada bibit seperti itu lagi, saya perintahkan ketua tim yustisi untuk melakukan tindakan sesuai peraturan yang berlaku. Badung harus bersih dari tempat prostitusi," tegasnya.

Kepala Sapol PP Badung, IGAK Suryanegara mengatakan, upaya itu dilakukan secara tegas karena sudah ada Peraturan Bupati Nomor 73 Tahun 2015 dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016, tentang ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. "Ada 52 wisma yang ditutup mencakup 520 pekerja (wanita penghibur). Penegakan perda itu kami lakukan tegas untuk menjaga ketertiban," tambahnya. (Jr.)**
.

Categories:Daerah,
Tags:,