Iran Bergejolak, KBRI Teheran Imbau WNI Lebih Waspada

Iran Bergejolak, KBRI Teheran Imbau WNI Lebih Waspada

Unjuk rasa anti-pemerintah yang berlangsung di Mashhad meluas menyebar ke sejumlah kota besar di Iran. (foto - Reuters)

Teheran - Unjuk rasa anti-pemerintah yang berlangsung di Mashhad meluas menyebar ke sejumlah kota besar di Iran. Demonstran dalam jumlah besar berada di Rasht dan Kermanshah, sedangkan dalam skala yang lebih kecil berlangsung di Isfahan dan Hamadan.

Unjuk rasa berawal dari massa yang memprotes kenaikan harga kebutuhan pokok. Namun, protes itu berkembang menjadi kecaman terhadap kepemimpinan Presiden Hassan Rouhani. Terbaru, lima peserta unjuk rasa anti-pemerintah Iran tewas ditembak aparat.

Dilansir CNN, sedikitnya lima peserta demo tewas akibat penembakan yang dilakukan oleh polisi pengendali huru-hara di Kota Dorud Provinsi Lorestan Iran Barat, pada Sabtu malam waktu setempat. Insiden memanasnya situasi di Iran membuat KBRI Teheran mengeluarkan imbauan, agar WNI di Negeri Para Mullah itu waspada.

"Sehubungan dengan meningkatnya aksi atau kerumunan massa di Teheran dan berbagai kota lainnya di Iran, disampaikan kepada seluruh masyarakat dan diaspora Indonesia agar menghindari kerumunan massa yang mengganggu ketertiban dan keamanan umum," demikian isi imbauan KBRI Teheran, Senin (1/1/2018).

KBRI Teheran juga meminta WNI yang hendak beraktivitas di luar rumah, wajib membawa identitas diri seperti paspor dan lainnya. "WNI senantiasa meningkatkan kewaspadaan dan menjaga komuniasi sesama masyarakat dan diaspora Indonesia di Iran," lanjut pernyataan itu.

Sejauh ini, KBRI Teheran juga memberi nomor hotline 24 jam yang bisa dikontak sewaktu-waktu oleh para WNI dan diaspora di Iran. Unjuk rasa berawal di Mashhad pada 28 Desember 2017, sebagai kota terbesar kedua di Iran. Unjuk rasa menyebar ke sejumlah kota lain, bahkan berkembang menjadi demonstrasi anti-pemerintah.

Mereka meminta pemerintah untuk membebaskan tahanan politik dan mengakhiri kekerasan yang dilakukan polisi. Meski sudah mendapat peringatan dari aparat keamanan, pada 29 Desember unjuk rasa itu tersebar luas hingga ke sejumlah kota besar di Iran.

Unjuk rasa itu merupakan yang terluas sejak demonstrasi besar-besaran digelar pada 2009, menyusul pemilihan umum yang bermasalah. Aksi yang awalnya memprotes kondisi ekonomi dan korupsi bergeser membahas soal politik. Para demonstran meneriakkan slogan yang menentang Rouhani dan Ayatollah Ali Khamenei.

Muncul juga kemarahan pengunjuk rasa atas intervensi Iran di luar negeri. Di Mashhad, beberapa orang meneriakkan "bukan Gaza, bukan Lebanon, hidupkku untuk Iran". Mereka memprotes pemerintah yang fokus pada isu asing dan tak cenderung mengabaikan masalah domestik. (Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,