Pengungsi Pencari Suaka di Indonesia Capai 6.200 Orang

Pengungsi Pencari Suaka di Indonesia Capai 6.200 Orang

Pengungsi Pencari Suaka di Indonesia Capai 6.200 Orang

Pekanbaru - Sebanyak 6.200 orang pencari suaka yang kini berada di Indonesia terpaksa menanti proses resettlement Australia lebih lama, akibat adanya pengurangan kuota.

"Padahal, quota resettlement ke Australia selama ini yang terbesar dibandingkan dengan kuota negara penerima lainnya. Misalnya Selandia Baru, Amerika Serikat, Kanada atau Jerman yang rata-rata hanya menerima di bawah 10 persen," kata Febionesta, Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Kamis (20/11).

Hal itu disampaikan terkait kebijakan imigrasi anti resettlement yang baru dikeluarkan pemerintah Australia terhadap para pengungsi yang berada di Indonesia. Kebijakan ini jelas bertentangan dengan kewajiban Internasional Australia selaku negara dari Konvensi Pengungsi 1951, yang mengakibatkan situasi tidak menentu bagi para pengungsi selama transit di Indonesia.

Ia mengatakan, kebijakan imigrasi yang dikeluarkan pada 18 November 2014 pada dasarnya menolak pencari suaka dan pengungsi, untuk proses resettlement (penempatan ke negara ketiga) ke Australia bagi mereka yang mendaftar ke UNHCR Indonesia per 1 Juli 2014. 

"Kebijakan itu juga memutuskan untuk memotong kuota resettlement pengungsi dari 600 orang menjadi 450 per tahun, mereka yang datang sebelum Juli 2014," katanya.

Artinya, kebijakan itu memastikan sekitar 1.911 orang pencari suaka dan pengungsi yang mendaftar ke UNHCR setelah Juli 2014, tidak akan memperoleh hak untuk resettlemet ke Australia. Sedangkan para pencari suaka dan pengungsi itu rata-rata berasal dari Afghanistan, Iran, Suriah, Myanmar, Sri Lanka.

Kebijakan itu juga menempatkan para pengungsi dalam kondisi semakin sulit, khususnya transit di negara yang tidak memiliki jaminan hukum yang memadai untuk melindungi pengungsi seperti Indonesia. 

Dari seluruh jumlah pencari suaka dan pengungsi tersebut, sekitar 3.000 orang usia anak-anak, 1.000 anak di antaranya adalah anak-anak sebagai imigran ilegal. Bantuan logistik yang diterima pengungsi selama ini pun tidak disediakan, melainkan bergantung pada bantuan organisasi internasional dengan jumlah yang sangat terbatas. (Jr.)**

.

Categories:Nasional,
Tags:nasional,