Libya Kutuk Serangan Bersenjata pada Keluarga Pengungsi

Libya Kutuk Serangan Bersenjata pada Keluarga Pengungsi

Penampungan pengungsi warga Tawergha di dekat Kota Bani Walid setelah diserang kelompok bersenjata. (foto - ist)

Tripoli - Pemerintah Libya mengutuk  serangan kelompok  bersenjata terhadap keluarga  pengungsi Tawergha dekat Kota Bani Walid, sekitar 180 km barat-daya Tripoli.

"Kepala Dewan Kepresidenan Pemerintah Kesepakatan Nasional mengutuk intimidasi terhadap keluarga Tawergha oleh kelompok bersenjata di dekat Daerah Gararat Al-Gatf," sebut Perdana Menteri Libya Fayez Serraj yang didukung PBB.

Dilansir Xinhua, Senin (5/2/2018) serangan itu dilancarkan dalam upaya merusak kesepakatan perujukan antara Kota Misurata dan Touragha. Kelompok itu telah dan terus memerangi upaya orang Libya untuk mencapai konsensus. Dukungan pun akan terus mengalir bagi pelaksanaan kesepakatan perujukan.

"Dewan Kepresidenan memuji upaya Dewan Kota Praja Misurata, Dewan Tawergha setempat dan komite tetua serta perujukan kedua kota besar itu, yang terus bekerja guna menjamin kepulangan orang Tawergha," sebutnya.

Sementara media lokal melaporkan, kelompok bersenjata menyerang kamp sementara buat pengungsi Tawergha di dekat Desa Gararat Al-Gatf di Bani Walid, tempat mereka membakar tenda keluarga pengungsi memukuli sebagian dari mereka dan mencuri sebagian kendaraan mereka.

Diduga, kelompok itu berasal dari Dewan Militer Misurata, yang menolak kepulangan warga Tawergha ke kota mereka. Pada 26 Desember 2017, Serraj mengumumkan 1 Februari akan menjadi tanggal bagi kepulangan orang Tawergha ke kota mereka, yang mereka tinggalkan beberapa tahun lalu.

Namun demikian, kepulangan itu terhenti setelah kelompok bersenjata dari Misurata menolak mereka memasuki kota tersebut. Meski pada kenyataannya kedua kota yang bertetangga itu menandatangani kesepakatan perujukan yang ditaja PBB pada Agustus 2016.

Selama aksi perlawanan, sebagian warga Tawergha bersekutu dengan pasukan mantan presiden Muammar Gaddafi melawan gerilyawan di Kota Misurata, yang berdekatan.

Setelah rejim Gaddafi digulingkan, warga dituduh oleh warga Misurata ikut dalam memerangi mereka, meninggalkan rumah mereka ke kota besar lain di Libya. Sejak itu, mereka telah menjadi pengungsi di dalam negeri mereka. (Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,