Menyoal Warisan, Empat Orang Anak Gugat Ibu Kandung

Menyoal Warisan, Empat Orang Anak Gugat Ibu Kandung

Ibu Cicih menuju ruang persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Bandung Selasa 20 Februari 2018. (foto - ist)

Bandung - Empat orang anak di Kota Bandung menggugat ibu kandungnya sendiri. Keempatnya yakni Ai Sukawati, Dede Rohayati, Ayi Rusbandi dan Ai Komariah dengan melayangkan gugatan terhadap ibu kandungnya Cicih (78) ke Pengadilan Negeri (PN) Bandung.
 
Cicih digugat oleh anak-anaknya, terkait persoalan warisan tanah. Mereka menggugat Cicih secara perdata senilai Rp 1,6 miliar. Gugatan tersebut terdiri atas gugatan materil sebesar Rp 670 juta, dan gugatan imaterial sebesar Rp 1 miliar.
 
"Klien saya, ibu Cicih digugat masalah warisan tanah," sebut kuasa hukum Cicih, Hotma Agus Sihombing, Selasa (20/2/2018). Menurut Agus, gugatan itu berawal saat Cicih mendapatkan hibah tanah dari suaminya seluas 332 meter persegi di Jalan Embah Jaksa Kelurahan Cipadung Kecamatan Cibiru Kota Bandung.
 
Tanah tersebut masih ditempati oleh Cicih beserta seorang anaknya Alit. "Sepeninggal suaminya, keempat anaknya tidak punya perhatian dan kasih sayang kepada ibunya. Mereka pun tidak pernah menengok. Intinya, ubunya dilupakan," katanya.
 
Karena tidak pernah diurus oleh anak-anaknya, Cicih tidak memiliki biaya untuk sehari-hari. Untuk menyambung hidupnya, Cicih terpaksa berhutang kepada tetangganya. "Lama kelamaan kalau berhutang terus enggak bagus," katanya.
 
Akhirnya lantaran utangnya membengkak, Cicih terpaksa menjual sebagian tanahnya seluas 91 meter persegi kepada orang lain dengan harga Rp 250 juta. "Ibu Cicih enggak punya uang lagi. Ia merasa ada sisa dari hibah suaminya. Karena merasa bagian dia, sehingga untuk mempertahankan hidup terpaksa jual tanah," katanya.

Namun, belakangan hal itu ternyata mendapat tanggapan dari keempat anaknya. Anaknya menuding Cicih menjual itu tanpa sepengetahuan mereka, sehingga keempat anaknya menggugat Cicih ke PN Bandung. "Padahal uang itu tidak dimakan habis oleh Cicih sendiri. Uang itu malah diberikan kepada salah satu anaknya yang menggugat untuk membangun rumah. Lalu ia juga membiayai cucunya yang tak lain anak dari anaknya," tegasnya.

Agus menjelaskan, agenda sidang siang baru tahap mediasi, para penggugat akan mencabut laporan namun dengan syarat. "Usulan dari penggugat mereka minta perjanjian jual beli (tanah 91 meter) dibatalkan. Namun bu Cicih enggak bisa mengembalikan uang ke pembeli karena sudah dipakai," katanya. 

Kalaupun dijual, harga jual harus sesuai dengan yang diajukan oleh mereka. Menurut Agus, penggugat meminta agar Cicih menjual tanah itu senilai Rp 910 juta. "Menurut mereka, harga satu meter di sana sepuluh juta rupiah. Ini mengarang, karena harga pasarannya hanya tiga juga per meter," katanya. Sidang dilanjutkan pekan depan dengan agenda mediasi kedua. (Jr.)**
.

Categories:Daerah,
Tags:,