Tumpahan Minyak di Teluk Balikpapan Capai 12 Ribu Hektar

Tumpahan Minyak di Teluk Balikpapan Capai 12 Ribu Hektar

Tumpahan minyak yang memenuhi perairan Teluk Balikpapan. (foto - @GreenpeaceID)

Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengumumkan, berdasarkan hasil pantauan terkait insiden tumpahan minyak mentah di perairan Teluk Balikpapan Kalimantan Timur, luasan wilayah terdampak sebaran minyak sudah mencapai 12 ribu hektar.

Tim gabungan melakukan pemantauan terdiri atas Ditjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Ditjen Penegakan Hukum, Pusat Pengendalian Pembangunan Eko Region Kalimantan (P3EK), BKSDA Provinsi Kalimantan TImur Unit Balikpapan, Dinas LHK Kota Balikpapan serta Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Pontianak Satker Balikpapan, termasuk Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Kegiatan diawali pemeriksaan lapangan (ground check) di lokasi pesisir dan sepanjang garis pantai Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), untuk mendapatkan data/informasi perihal penetapan titik koordinat batas terluar area terdampak tumpahan minyak, dan pengamatan lapangan terhadap ekosistem dan biota laut yang terdampak.

Termasuk wawancara dengan masyarakat untuk mengetahui kerugian dan gangguan kesehatan. "Luasan area terdampak tumpahan minyak diperkirakan 7 ribu hektar, dengan panjang pantai terdampak di sisi kota Balikpapan dan PPU mencapai kurang lebih 60 km," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur Riza Indra Hadi, dalam keterangan tertulis, Kamis (5/4/2018).

Fakta di lapangan, ditemukan ekosistem terdampak berupa tanaman mangrove seluas kurang lebih 34 hektar di Kariangau, 6.000 tanaman mangrove dan 2.000 bibit mangrove kampung atas air Margasari dan biota laut jenis kepiting mati di pantai Banua Patra. "Masyarakat mengeluhkan mual dan pusing akibat bau minyak yang menyengat selama beberapa hari, khususnya di area yang permukimannya masih terpapar tumpahan minyak," katanya.

"Masih ditemukan lapisan minyak di perairan, tiang dan kolong rumah pasang surut penduduk di daerah Kelurahan Margasari Kelurahan Kampung Baru Hulu dan Kelurahan Kampung Baru Hilir, serta Kelurahan Kariangau RT 01 dan RT 02 di Balikpapan Barat," tambah Riza.

Tim gabungan juga ikut merekam melalui citra satelit. "Hasil analisis citra satelit oleh Lapan tanggal perekaman 1 April 2018, dengan menggunakan data Landsat 8 dan Radar Sentinel 1A, estimasi total luasan tumpahan minyak di perairan Teluk Balikpapan seluas 12.987,2 hektar. Gambar peta dan citra satelit disampaikan terlampir," tegasnya.

Pada Rabu tim juga mengambil sampel kualitas air laut yang dilaksanakan oleh Tim dari Puslitbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan di area terdampak tumpahan minyak, 15 titik yang terdiri atas 1 titik water control quality, 1 titik sea water control quality dan 13 titik kualitas air laut.

"Tim juga mengambil sampel biota air berupa ikan, pengambilan sampel limbah minyak untuk mengetahui jenis bahan bakar dan finger print, untuk mengetahui asal usul sumber minyak/ Selain itu, melakukan penyelaman untuk pengambilan sampel sedimen dan sampel permukaan air laut di area sekitar TKP kapal MV Ever Judger 2," kata Riza.

Sementara itu, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menyatakan, produksi bahan bakar minyak (BBM) fasilitas pengolahan minyak (kilang) Balikpapan Kalimantan Timur dilaporkan sempat turun. Hal itu akibat terjadinya kebocoran pipa pemasok minyak mentah, yang memenuhi kawasan perairan Teluk Balikpapan.

Disebutkan, produksi kilang Balikpapan pun mengalami penurunan karena pasokan minyak mentahnya menyusut.  "Yang lost itu production kilang Balikpapan jadi drop. ‎Sebab suplai ke kilang turun, sehingga produksi kilangnya lost," kata Arcandra di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, Kamis (5/4/2018).

Menurutnya, kapasitas produksi kilang Balikpapan secara normal sekitar 200 ribu barel. Namun, akibat terganggunya pasokan minyak mentah karena adanya kebocoran pipa, menyebabkan produksi kilang menurun. Namun, ia belum bisa menyebutkan sejauhmana penurunannya.

"Produksi kilang 200 ribuan, karena supply-nya terganggu, maka produksi kilang (input crude-nya pun terganggu)," tegas Arcandra. Ia mengaku, belum bisa memastikan akan ada tambahan impor BBM untuk menutupi kekurangan produksi kilang Balikpapan. 

Sejauh ini, pipa yang mengalami kebocoran tersebut sudah diperbaiki, diganti dengan ukuran yang lebih kecil dari sebelumnya, dari 20 inci menjadi 16 inci. "Agak lebih kecil ukuran pipanya, sehingga suplainya pun sedikit berkurang‎," tambahnya. (Jr.)**

.

Categories:Nasional,
Tags:,