Polda Buru 7 DPO Penjualan Miras Oplosan di Wilayah Jabar

Polda Buru 7 DPO Penjualan Miras Oplosan di Wilayah Jabar

Kapolda Jabar Irjen Pol Budi Agung Maryoto saat konferensi pers Kamis 12 April 2018. (foto - ist)

Bandung - Polda Jabar telah menetapkan sejumlah tersangka dalam kasus miras oplosan mengandung zat metanol dengan menelan 58 korban jiwa di wilayah hukum Jabar. Selain itu, polisi menetapkan 7 daftar pencarian orang (DPO) yang saat ini terus diburu petugas.

Ke-7 tersangka itu, antara lain dua tersangka JS dan HM di Kabupaten Bandung, 2 tersangka di Kota Bandung, dan tersangka lain di Sukabumi dan Ciamis. Polisi juga sudah memeriksa sekitar 20 saksi dalam kasus miras oplosan di Cicalengka Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Sukabumi, Cianjur dan Ciamis.

Sedikitnya 222 warga yang menjadi korban antaralain 58 jiwa meninggal dunia, di Kabupaten Bandung 41 jiwa dan 11 orang dirujuk. Korban meninggal dunia di Kota Bandung 7 orang, Sukabumi 7 orang, Cianjur 2 orang, namun di Cianjur satu orang yang diduga pelaku meninggal dunia. Terakhir di Ciamis seorang korban meninggal dunia.

Kapolda Jabar Irjen Pol Budi Agung Maryoto dalam konferensi pers, Kamis (12/4/2018) menyatakan keprihatinannya dalam kasus miras oplosan yang menimbulkan banyak korban jiwa. "Setelah dapat informasi, polisi melakukan penangkapan terhadap tersangka inisial JS sebagai penjual," katanya.

Miras oplosan yang dipasarkan di Cicalengka dan menimbulkan banyak korban jiwa menurut Agung, diduga diproduksi SS di rumahnya di Jalan Raya Bypass Cicalengka. SS diduga sebagai pemilik perusahaan miras oplosan. "SS dan HM sebagai DPO, sudah ditetapkan tersangka. HM adalah istri SS," kata Agung.

Modus operandinya, tersangka meracik miras oplosan dengan cara membeli minuman minola ginseng. Lalu ditambah zat pewarna, kemudian ditambah racikan kuku bima, kemudian alkohol. Namun presentasinya belum diketahui karena harus melalui pemeriksaan di Puslabfor.

Menurutnya, untuk mengungkap lebih jauh dalam penanganan miras oplosan itu harus dilakukan pemeriksaan terhadap pelaku SS, yang saat ini masih DPO. "Secara spesifik, sepintas orang datang ke sini (rumah/pabrik racikan miras oplosan) enggak akan tahu," katanya.

Agung menjelaskan, ketuju DPO dalam kasus tersebut khususnya di Cicalengka antara lain sebagai agen di Nagreg, Cibiru dan dekat rel kereta api Cicalengka. "Empat orang kabur membantu meracik miras oplosan kasus di Cicalengka, mudah-mudahan segera terungkap," katanya.

Disebutkan, ada indikasi miras oplosan yang diproduksi di Cicalengka didistribusikan ke wilayah Kota Bandung, tapi dengan kejadian di Palahuhanratu dan Ciamis ada perbedaan.  "Di Cianjur, Palabuhanratu dan Ciamis mereka minum membuat racikan alkohol sendiri ditambah minuman lainnya langsung meninggal dunia. Yang ada korelasinya Kota Bandung dan Cicalengka," tegasnya.

Para tersangka dalam kasus miras oplosan tersebut dijerat Pasal 204 KUH Pidana, tentang Pangan dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara. Polisi pun sedang bergerak melakukan pengejaran terhadap 7 terduga pelaku yang saat ini masih DPO.

Pascakejadian, Kapolda berkoordinasi dengan Pangdam III/Siliwangi dan dengan para bupati dan wali kota di Jawa Barat, selain BPOM untuk dilaksanakan razia secara masif. "Tiga hari menggelar razia miras dan tuak, sudah mendapatkan 30.000 botol miras berbagai jenis dan merek. Lalu 90 jerigen besar dan kecil berisi tuak. Razia gabungan secara masif ini agar di Jabar terbebas dari miras," tambahnya. (Jr.)**

.

Categories:Daerah,
Tags:,