19 Wanita Rusia Gabung ISIS Dipenjara Seumur Hidup di Irak

19 Wanita Rusia Gabung ISIS Dipenjara Seumur Hidup di Irak

Sebanyak 19 wanita Rusia diduga gabung ISIS dijatuhi hukuman penjara seumur hidup di Irak. (foto - AFP)

Baghdad - Sedikitnya 19 wanita Rusia dijatuhi hukuman oleh pengadilan di Baghdad Irak dengan penjara seumur hidup, atas tuduhan bergabung dengan kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di negara tersebut.

Dilansir Al Jazeera, Senin (30/4/2018) vonis dibacakan pengadilan pada hari Minggu waktu setempat. Belasan waniau Rusia tersebut dinyatakan bersalah karena telah bergabung dan mendukung ISIS.

Para wanita itu kebanyakan ditemani oleh anak-anak mereka berbicara di pengadilan melalui seorang penerjemah, mengaku telah disesatkan untuk melakukan perjalanan ke Irak. Penerjemah tersebut merupakan profesor bahasa Rusia di Universitas Baghdad, yang disewa oleh kedutaan Rusia.

Salah seorang diplomat Rusia yang ikut hadir dalam persidangan tersebut mengatakan, keluarga para wanita itu telah diberitahu tentang putusan pengadilan. Enam wanita asal Azerbaijan dan empat lainnya asal Tajikistan di antaranya, juga dihukum penjara seumur hidup atas tuduhan serupa.

"Saya tidak tahu kami berada di Irak. Saya pergi bersama suami dan anak-anak saya ke Turki untuk tinggal di sana, kemudian saya tiba-tiba mengetahui bahwa saya sebenarnya di Irak," sebut salah seorang terdakwa.

Dilaporkan, kelompok ISIS telah mengejutkan pasukan Irak dengan serangan cepat tahun 2014 dan menduduki sekitar sepertiga wilayah dari negara itu, termasuk Mosul yang merupakan kota terbesar kedua. Namun, pasukan Irak telah menyatakan kemenangannya atas kelompok itu.

Sejak mengumumkan kemenangan pada akhir 2017, pihak berwenang Irak telah menangkap lebih dari 560 wanita dan 600 anak-anak, yang diidentifikasi sebagai anggota kelompok atau kerabat petempur ISIS. Pada awal bulan ini, pengadilan Irak menghukum Djamila Boutoutaou warga Perancis dengan hukuman penjara seumur hidup, karena bergabung dengan kelompok bersenjata itu.

Boutoutaou menyatakan kepada pihak berwenang pada saat ia bepergian dengan suaminya dan berpikir, mereka akan pergi untuk berlibur. Namun, ia baru menyadari bahwa suaminya adalah seorang jihadis ketika mereka tiba di Turki.

Suaminya pun tewas dalam operasi militer di dekat Mosul bersama dengan putra mereka. Boutoutaou lalu menyerahkan diri kepada pasukan Kurdi Peshmerga di Irak. Para ahli memperkirakan, Irak telah menahan lebih dari 20.000 orang karena diduga memiliki hubungan dengan kelompok ISIS.

Dari jumlah itu, lebih dari 300 orang di antaranya telah jatuhi hukuman mati. Undang-undang anti-terorisme Irak menjadi dasar bagi pengadilan, untuk menghukum orang-orang yang diyakini telah membantu ISIS. Meski mereka tidak terlibat langsung dalam pertempuran. (Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,