Selamatkan Janin Jalinan Asmara Bocah SD dan Siswi SMP

Selamatkan Janin Jalinan Asmara Bocah SD dan Siswi SMP

Hubungan asmara bocah SD dan sisiwi SMP yang berujung hamil di Tulungagung. (foto - ist)

Tulungagung - Menghadapi kasus siswa SD menghamili siswi  SMP di Tulungagung diharapkan  menghasilkan solusi terbaik dengan mempertimbangkan dampak psikologis. Sekaligus menyelamatkan janin dalam kandungan hingga lahir dengan selamat.

Dua bocah di Tulungagung sebut saja Koko siswa kelas V SD dan Venus siswi SMP. Keduanya menjalin asmara sejak Februari 2017, setelah berkenalan di Pantai Gemah. Ironisnya, dua anak di bawah umur itu menjalani hubungan layaknya orang dewasa dan berujung hamil 6 bulan.

Unit Layanan Terpadu Perlindungan Sosial Anak Integratif (ULT PSAI) bersama Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Tulungagung sudah menemui orangtua kedua bocah itu. Meski demikian, belum ada solusi terbaik untuk penyelesaian kasus tersebut.

"Kami upayakan ada solusi lanjutan terkait pemenuhan hak kedua anak-anak tersebut. Termasuk hak bayi yang sedang dikandung agar tetap selamat hingga lahir," kata Kepala ULT PSAI Tulungagung, Sunarto dikonfirmasi di Malang, Rabu (23/5/2018).

Diketahui, usia kandungan Venus termasuk rentan gangguan kesehatan. Oleh karenanya, akses kesehatan untuknya harus tetap terpenuhi. Keluarga dan bidan desa harus bersama-sama menjaga kandungannya agar tetap sehat. “Agar anak dalam kandungan itu bisa lahir dengan selamat," sebut Sunarto.

Sementara pendidikan Koko dan Venus pun harus tetap terjamin, artinya bisa menyelesaikan sekolah mereka. Kedua bocah itu dipastikan mengalami beban psikologis saat bersekolah. Keduanya bisa melanjutkan pendidikannya melalui kejar paket C sebagai satu alternatif.

"Tekanan psikologis itu pasti ada. Keluarga kedua anak itu juga harus dibantu, bagaimana menghadapi masalah itu termasuk menerima kehadiran anak yang akan dilahirkan," tegas Sunarto. Kasus siswa SD menghamili siswi SMP itu juga diharapkan tak sampai ke ranah hukum.

Kedua orangtua dari masing-masing mencapai kesepakatan terbaik. Meminimalisir kemungkinan upaya hukum atas penyelesaian masalah itu. "Soal hukum terserah pihak orangtua. Namun kami berupaya agar kedua pihak keluarga tak menempuh upaya hukum dan menyelesaikan dengan baik," tambahnya.

Pihak kepolisian sendiri tengah menyelidiki kasus itu, apalagi kejadiannya membikin geger warga setempat. Meski demikian, belum ada laporan yang dibuat oleh salah satu keluarga dari kedua bocah itu.

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Tulungagung, Ipda Retno Pujiarsih mengatakan, butuh penanganan khusus terhadap kasus ini dengan melihat kedua bocah itu sebagai korban. "Belum ada yang buat laporan. Kedua anak itu adalah korban, tak bisa disalahkan kalau ada kejadian seperti ini,” kata Retno.

Kepolisian menjadwalkan pertemuan antara kedua keluarga anak-anak itu. Juga mengundang berbagai pihak seperti ULT PSAI, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan dan lainnya, pada Kamis 24 Mei ini di Mapolres Tulungagung. "Kami saring semua pendapat demi keputusan terbaik, mempertimbangkan dampak psikologis dan kesehatan kedua bocah itu," tegasnya. (Jr.)**

.

Categories:Daerah,
Tags:,