HA Soewarma, Pemilik Sari Ater Meninggal di Usia 101 Tahun

HA Soewarma, Pemilik Sari Ater Meninggal di Usia 101 Tahun

Almarhum H.A Soewarma (duduk). (foto - ist)

Bandung - Salah seorang saksi sejarah Konferensi Asia Afrika 1955 yang juga pendiri sekaligus pemilik Sari Ater, H.A Soewarma meninggal dunia di kediamannya Jalan Sangkuriang Bandung, Selasa (19/6/2018) sekitar pukul 09.45 WIB.
 
Soewarma meninggalkan 12 anak dan 49 cucu. Sebelum meninggal, almarhum sempat dirawat di Rumah Sakit Borromeus selama 3 hari. Jasad almarhum disemayamkam di Tempat Pemakaman Umum Sirnaraga Bandung.
 
Semasa hidupnya, almarhum dikenal sebagai sosok yang pintar serta memiliki jiwa sosial yang tinggi. Hal itu disebutkan rekan almarhum yang juga mantan anak buahnya, Abah Landoeng. Menurutnya, almarhum merupakan orang yang patut ditiru generasi sekarang.
 
Meski hidupnya sangat berkecukupan, ia dikenal dekat dengan rakyat biasa. Apalagi sosok beliau merupakan orang yang juga memiliki jasa besar terhadap terselenggaranya KAA pertama. "Beliau orang yang patut dicontoh. Sifat welas asih terhadap sesama beliau tunjukkan saat masih muda," kata Abah.
 
Di masa KAA, almarhum memiliki peran penting, di mana ia bersama anak buahnya termasuk Abah Landoeng menyiapkan transportasi bagi delegasi negara Asia Afrika. Termasuk salah satunya mobil Mercy yang dipakai Ir. Soekarno, yang kini dipajang di halaman depan Hotel Savoy Homan Bandung.
 
"Ia dipercaya menyediakan transportasi bagi utusan negera peserta KAA. Ketika itu ada sekitar 200 mobil Mercy dan 18 mobil lainnya untuk para kepala negara dan utusan penting, semua mobilnya hampir didapat dari pengusaha dan tokoh di Kota Bandung," katanya.

Atas jasanya itu, Abah berpesan kepada generasi muda agar mencontoh sosok Soewarma yang ikhlas dalam membangun bangsa serta gigih dalam bekerja. Namun, ia tetap tidak melupakan orang-orang yang secara ekonomi berada di bawahnya.

Almarhum meninggal dalam usia 101 tahun. Karena usianya sudah sepuh, beliau mengalami penyakit jantung dan sempat dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Sosok pejuang itu harus meninggal dunia beberapa hari setelah perayaan Idulfitri 1439 Hijriah. (Jr.)**
.

Categories:Bandung,
Tags:,