41 Masjid Kantor Pemerintah di Jakarta Terindikasi Radikalisme

41 Masjid Kantor Pemerintah di Jakarta Terindikasi Radikalisme

Konferensi pers Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) dan Rumah Kebangsaan. (foto - ist)

Jakarta - Sedikitnya 41 masjid di kantor pemerintahan, lembaga negara dan kantor BUMN di Jakarta terindikasi terpapar radikalisme. Demikian temuan hasil penelitian Lembaga Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) dan Rumah Kebangsaan.
 
Menurut Koordinator penelitian yang juga Ketua Dewan Pengawas P3M, Agus Muhammad, penelitian itu dilakukan pada 100 masjid yang ada kantor kementerian, kantor lembaga negara dan kantor BUMN di Jakarta.
 
Ke-100 masjid itu terdiri atas 35 masjid di kementerian, 28 masjid lembaga negara dan 37 masjid yang ada di lembaga BUMN. "Hasil survei menunjukkan angka mengejutkan. Dari 100 masjid, sebanyak 41 masjid terindikasi paham radikal," kata Agus di Kantor PBNU Jalan Kramat Jakarta Pusat, Minggu (8/7/2018).
 
Penelitian dilakukan satu bulan sejak 29 September hingga 21 Oktober 2017. Penelitian dilakukan dengan meneliti khutbah salat Jumat serta bahan bacaan yang ada di masjid. Setiap masjid didatangi satu orang relawan untuk merekam video dan audio khutbah, dan mengambil gambar brosur, buletin dan bahan bacaan lain yang ada di masjid.
 
Agus mengatakan, penelitian sengaja dilakukan pasca enam bulan pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta pada 2017. Selain itu, penelitian dilakukan empat bulan setelah keluarnya Perppu Ormas yang melarang kegiatan ormas Hizbut Tahrir Indonesia. "Setelah kondisi nasional kondusif dan tidak memanas, sehingga publik bisa tahu dan bisa beri andil dan lebih peduli terhadap masjidnya," tegas Agus.
 
Penelitian membagi indikasi radikalisme dalam tiga kategori. Yakni kategori rendah artinya secara umum cukup mederat tapi berpotensi radikal, kategori sedang yaitu tingkat radikalisme cenderung tinggi dan tinggi, artinya adanya provokasi untuk melakukan tindakan intoleran.
 
Hasilnya 41 masjid terdiri atas 17 masjid dalam kategori tinggi, 17 pada kategori sedang dan 7 masjid di kategori rendah. Diakui, hasil survei itu belum sepenuhnya mencerminkan realitas yang sebenarnya. Sifat dari penelitian juga baru sebatas indikatif bukan ke arah konklusif.
 
Ia berharap, adanya penelitian yang lebih mendalam daripada yang telah dilakukannya. "Kami survei hanya khutbah Jumat dan hanya dengar rekaman, dan tidak depth interview untuk lakukan penelitian mendalam terhadap masjid-masjid itu," katanya. (Jr.)**
.

Categories:Daerah,
Tags:,