Banjir Bandang Jepang Paling Mematikan, 176 Orang Tewas

Banjir Bandang Jepang Paling Mematikan, 176 Orang Tewas

Korban tewas akibat banjir bandang disertai tanah longsor di Jepang capai 176 orang. (foto - Kyodo)

Okayama - Korban tewas  akibat banjir bandang disertai  tanah  longsor di  Jepang yang  disebabkan hujan  deras selama sejak pekan ini terus bertambah menjadi 176 jiwa. Demikian menurut laporan terakhir yang dirilis lembaga SAR setempat pada Selasa.
 
Dilansir CNN, Rabu (11/7/2018) banyaknya korban tewas menjadikan banjir bandang itu sebagai salah satu bencana alam paling mematikan yang menghantam Jepang, sejak gempa bumi dan tsunami di Fukushima pada 2011 lalu.
 
Menteri Kabinet Jepang Yoshihide Suga menyatakan, sebanyak sembilan orang masih dinyatakan hilang, dan 75.000 petugas penyelamat dikerahkan untuk melanjutkan proses pencarian di area terdampak bencana. Prediksi badai dalam beberapa hari ke depan dapat kembali memicu terjadinya banjir dan tanah longsor, yang berisiko menambah jumlah korban tewas.
 
Saat bersamaan, Perdana Menteri Shinzo Abe berkunjung ke Prefektur Okayama, pada Rabu pagi untuk memantau kerusakan di wilayah yang terkena dampak paling parah itu. PM Abe memantau seluruh wilayah bencana dari atas helikopter, yang membawanya ke pusat evakuasi.
 
Setelah itu, pemimpin Jepang itu dijadwalkan berkunjung ke Kota Kurashiki, yang mengalami dampak kehancuran cukup parah, dan bertemu dengan Gubernur Prefektur Okayama. Karena dampak bencana sangat fatal, PM Abe membatalkan agenda perjalanan selama satu bulan ke depan ke Belgia, Perancis, Arab Sausi dan Mesir.
 
Juru bicara kantor resminya mengatakan, sang perdana menteri mengerahkan upaya penyelamatan sebagai prioritas nasional. Otoritas Jepang melaporkan, ribuan rumah rusak dan hampir 17.000 rumah tangga kehilangan pasokan listrik sejak akhir pekan lalu.
 
Sinyal telekomunikasi juga mengalami gangguan di beberapa titik bencana, mengakibatkan komunikasi antar-personal terhambat. Di sisi lain, akses menuju lokasi bencana makin rumit karena beberapa ruas jalan dan rel kereta rusak, sehingga menghambat mobilitas regu penyelamat dan distribusi bantuan.
 

Dua juta orang dikabarkan mengungsi ke pusat penampungan sementara. Namun, masih cukup banyak di antara mereka yang terjebak banjir bandang memilih untuk menyelamatkan diri di atap rumah, menunggu giliran evakuasi via helikopter dan perahu karet.

 

 
Di Distrik Kurashiki di dekat Okayama, tentara Jepang dikerahkan untuk membawa warga lanjut usia dari rumah mereka ke kapal penyelamat. Banjir di wilayah itu dilaporkan masih tinggi, dan kemungkinan baru surut dalam 1 hingga 3 hari ke depan.
 

Badan Meteorologi dan Klimatologi setempat melaporkan, hujan deras melanda kawasan barat daya Jepang sejak Kamis 5 Juli 2018. Curah hujan mencapai titik rekor tertinggi dalam sejarah Jepang, pada Minggu 8 Juni lalu dengan dampak sampingan berupa banjir, longsor dan petir. (Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,