Bos PT Solusi Balad Lumampah (SBL) Terancam 20 Tahun Bui

Bos PT Solusi Balad Lumampah (SBL) Terancam 20 Tahun Bui

Sidang bos PT Solusi Balad Lumampah (SBL) Aom Juang Wibowo Sastra Ningrat dan Eri Ramdhani. (foto - ist)

Bandung - Bos biro perjalanan umrah PT Solusi Balad Lumampah (SBL) Aom Juang Wibowo Sastra Ningrat dan Eri Ramdhani (marketing), terancam hukuman 20 tahun penjara.
 
Keduanya didakwa telah melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan terhadap ribuan calon jemaah umrah, dengan total kerugian mencapai ratusan miliar rupiah. Demikian terungkap dalam sidang perdana di Pengadilan Negeri Bandung Jalan LLRE Martadinata Kota Bandung, Selasa (17/7/2018).
 
Sidang yang dipimpin hakim Judijanto itu beragendakan pembacaan surat dakwaan oleh jaksa penuntut umum dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jabar. Dakwaan terhadap kedua terdakwa dibacakan secara terpisah. 

Dalam surat dakwaannya, jaksa menilai perbuatan kedua terdakwa melanggar pasal berlapis, yaitu Pasal 372, Pasal 378 KUHpidana tentang penipuan dan penggelapan. Terdakwa juga dikenakan Pasal 3 UU RI No 8 tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Menurut jaksa penuntut umum, terdakwa Aom dan Eri telah melakukan tindak pidana penipuan dengan cara menawarkan paket umrah yang menggiurkan. Yakni melalui sistem multi level marketing, tabungan dan down payment (DP) murah. 

"Terdakwa membuat program MLM,  dan seolah memberikan kemudahan kepada jemaah umrah dengan sistem tabungan," kata jaksa. Untuk melancarkan aksinya, terdakwa Aom dan Eri kembali merancang berbagai program untuk memikat calon jemaah umrah. 
 
Mereka pun membentuk koordinator dan agen di seluruh Indonesia, dengan total calon jemaah umrah yang mendaftar lewat PT SBL lebih dari 30 ribu orang.  "Sampai ada 12.845 jemaah yang gagal berangkat umrah dan merasa dirugikan," tegas jaksa. 

Terdakwa Aom dan Eri kemudian menggelapkan dana yang sudah disetor oleh para calon jemaah umrah. Dari 12.845 jemaah yang tidak bisa diberangkatkan, uang yang masuk mencapai Rp 231.210.000.000.

Jaksa juga merinci, uang yang diperoleh itu oleh kedua terdakwa disalahgunakan. Terdakwa Aom memberikan bonus kepada terdakwa Eri, di antaranya bonus uang tunai, sejumlah kendaraan roda empat, serta dibelikan vila senilai Rp 10 miliar. Selain itu, uang juga diberikan kepada istri terdakwa Aom untuk gaji per bulan sebesar Rp 75 juta. 

Selain itu, jaksa juga mengungkapkan uang digunakan Aom untuk membayar bonus kepada stafnya. Ia juga membelanjakan uang jemaah untuk membeli tanah kosong, membeli sejumlah mobil mewah dan membangun kantor SBL. 
 
Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sampai Desember 2017, terjadi defisit keuangan Rp 50 miliar. Kasus itu bermula saat Kemenag menegur PT SBL karena menunda pemberangkatan umrah. yang seharusnya Desember 2017 dan Januari 2018 menjadi Februari, Maret, April dan Mei 2018.

Polda Jabar lalu menerima pengaduan dari sejumlah calon jemaah yang sudah mendaftar, namun tidak kunjung diberangkatkan. Polisi menindaklanjutinya dengan serangkaian penyelidikan termasuk mencari penyebab penundaan keberangkatan. (Jr.)**
.

Categories:Bandung,
Tags:,