Pedagang Ayam di Bandung Menjerit Ancam Mogok Jualan

Pedagang Ayam di Bandung Menjerit Ancam Mogok Jualan

Pedagang Ayam di Bandung mengeluh pendapatannya semakin menurun. (foto - ist)

Bandung - Kalangan pedagang  telur dan  daging ayam  di Bandung  resah,  menyusul  merangkaknya  harga di pasaran. Bahkan, mereka mengaku belakangan ini mulai ditinggal pembeli, sehingga pendapatan pun anjlok.
 
Mereka mengancam melakukan mogok jualan, jika kenaikan harga makin tak terbendung. Bahkan, di sejumlah daerah seperti Bogor, Cianjur dan Garut para pedagang ayam sudah tidak berjualan. Untuk di Kota Bandung sendiri rencana mogok dagang masih menunggu upaya pemerintah, dalam menstabilkan harga.
 
"Di Bandung sebenarnya kalau satu minggu ini tidak ada perubahan akan ada aksi," kata Ketua Persatuan Pedagang Hayam Bandung (PPHB) Yoyo Sutarya, Kamis (19/7/2018). Dirharapkan, pemerintah segera menstabilkan harga dua komoditi itu, karena telur dan daging ayam merupakan kebutuhan pokok masyarakat.
 
"Pemerintah harus cepat mengatasi masalah tersebut, karena beberapa pedagang sudah berhenti berjualan karena dagangannya tidak laku," katanya.
 

Dalam dua minggu terakhir ini, harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional di Kota Bandung masih di atas normal. Tak hanya pembeli, tingginya harga daging ayam tersebut juga dikeuyhkan oleh para pedagang karena sepinya pembeli.

 

 

Menurut penuturan seorang pedagang di pasar Kosambi Bandung, Jeje mengatakan, kenaikan harga ayam tersebut sangat merugikan para pedagang. Pasalnya, para pembeli mulai meninggalkan daging ayam, karena harganya terlalu tinggi.
 
"Sudah dua minggu ini harga belum menunjukkan tanda-tanda turun. Kalau saya jual Rp 42 ribu/kg, ada pedagang lain yang jual Rp 45 ribu/kg," katanya.
 
Ia mengakui, tak jarang dirinya kerap kali menerima komplain dari masyarakat terkait mahalnya daging ayam tersebut. Bahkan, beberapa pedagang pun dilanda rasa "galau" menjual daging ayam dengan harga mahal.
 
"Sudah 30 tahun saya berjualan, belum pernah sama sekali harga ayam sampai segini tinggi. Malah, melebihi harga ayam saat idulfitri. Pembeli banyak yang mengeluh kemahalan, kami juga menjual jadi kurang enak," tambahnya. (Jr.)**
.

Categories:Ekonomi,
Tags:,