Topan Jongdari Hantam Chugoku Tewaskan Ratusan Orang

Topan Jongdari Hantam Chugoku Tewaskan Ratusan Orang

Topan Jongdari berkekuatan 180 km per jam hantam kawasan bagian barat Jepang. (foto - RAMMB/CIRA)

Chugoku - Topan  Jongdari  berkekuatan  180 km per jam  hantam  kawasan  bagian  barat  Jepang  yang  mengakibatkan banjir dan tanah longsor. Topan tersebut memporakporandakan wilayah Chugoku, sekitar 400 kilometer dari Tokyo.
 
Dilansir laman Straitstime, Sabtu (28/7/2018) berdasarkan keterangan Badan Meteorologi Jepang menyebutkan, angin topan juga diprediksi akan bergeser ke pusat kota, yakni Tokyo.
 
Otoritas setempat menyatakan, banjir dan longsor yang terjadi Chugoku telah menewaskan sedikitnya 220 orang. Selain longsor, banjir dan hujan deras otoritas setempat mengingatkan warga untuk berhati-hati pada angin kencang dan ombak tinggi.
 
Jika kondisinya semakin parah, pemerintah menganjurkan agar masyarakat yang ada di lokasi musibah mengungsi ke tempat yang lebih aman. "Pemerintah mengimbau pada warga, terutama bagi mereka yang tinggal di dataran rendah untuk mengantisipasi situasi. Kami juga berharap agar warga bisa merencanakan evakuasi jika hal itu dibutuhkan," kata Kepala Badan Meteorologi Jepang, Minako Sakuri.
 
Tak hanya menyebabkan tewasnya orang dan kerusakan berbagai fasilitas, badai dahsyat itu juga menyebabkan 150 penerbangan domestik di Jepang ditunda keberangkatannya.
 

Topan Jongdari yang terjadi di Chugoku disebut sebagai badai terparah yang melanda kawasan Jepang selama satu dekade terakhir. Penduduk yang selamat di Chugoku kini masih bertahan di lokasi pengungsian, karena rumah yang mereka tempati telah terendam banjir.

 

 

Sementara itu, p

ejabat di Prefektur Okayama mengungkapkan, pihaknya tidak mengeluarkan peringatan untuk evakuasi. Namun mereka tetap berjaga selama 24 jam penuh, apabila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. "Kami memantau area yang berada dekat dengan sungai setelah hujan turun," kata pejabat pemerintahan Prefektur Okayama, Tadahiko Mizushima.
 

Ia menambahkan, banyak korban yang tewas akibat tidak mau dievakuasi atau diungsikan. Mereka lebih memilih untuk bertahan untuk tidak meninggalkan rumahnya. (Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,