Banjir di Kerala Tewaskan 80 Orang, Bandara pun Lumpuh

Banjir di Kerala Tewaskan 80 Orang, Bandara pun Lumpuh

Bandara Internasional Cochin India ditutup akibat terendam banjir. (foto - PTI)

Kerala - Sedikitnya 80 orang dilaporkan tewas akibat banjir yang disebabkan oleh hujan deras di negara bagian Kerala India. Banjir itu juga menutup bandara hingga aktivitas penerbangan lumpuh, sedangkan lebih dari 85.000 orang kehilangan tempat tinggal.
 
Dilansir BBC, Kamis (16/8/2018) pihak berwenang mengatakan, Bandara Internasional Cochin, salah satu bandara tersibuk di India telah ditutup hingga 18 Agustus karena landasan pacu terendam banjir. Pemerintah negara bagian Kerala mengatakan, banyak dari mereka yang tewas akibat tertimbun puing dari tanah longsor.
 
Departemen Meteorologi India telah mengeluarkan peringatan "level merah" di negara bagian tersebut. Operasi penyelamatan tengah berlangsung dan pemerintah federal mengirimkan pasukan tambahan untuk membantu upaya penyelamatan warga setempat.
 
"Kami menyaksikan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Kerala. Hampir semua bendungan sekarang dibuka. Sebagian besar instalasi pengolahan air kami terendam, motornya rusak," kata Menteri Utama Pinarayi Vijayan.
 
Menurutnya, kegagalan pemerintah negara bagian Tamil Nadu yang bertetangga untuk melepaskan air dari bendungan makin memperburuk situasi. Negara bagian itu melaporkan 25 orang tewas, yang diprediksi jumlahnya terus meningkat.
 
Perdana Menteri India dan Menteri Dalam Negeri menawarkan bantuan federal kepada negara. Sekolah di seluruh distrik Kerala sebanyak 14 distrik telah ditutup, sedangkan beberapa distrik melarang wisatawan datang terkait masalah keamanan.
 

Puluhan orang tewas dan lebih dari 40.000 lainnya dievakuasi, menyusul banjir bandang yang "tidak pernah terjadi sebelumnya" melanda kawasan wisata di selatan India itu. "Setidaknya 37 orang tewas sejak hujan deras muson pertamakali melanda negara bagian Kerala pada Rabu 8 Agustus 2018," kata P.H. Kurian, Komisaris Komisi Keselamatan setempat.

 

 

Wilayah yang dilanda bencana tersebut berada di pesisir Laut Malabar yang beriklim tropis, dan terkenal karena jaringan saluran air yang indah. Sekitar 40.000 orang lainnya yang tinggal di area dataran rendah telah dievakuasi ke 350 kamp pengungsi, karena tanah longsor dan aliran sungai meluap.

Hujan musim dingin diperkirakan akan terjadi di India sepanjang tahun ini. Namun setelah hari-hari hujan deras yang tidak normal, pihak berwenang pada Jumat 10 Agustus 2018 membuka pintu bendungan untuk mencegah kemungkinan banjir meluas.

"Negara kami berada di tengah-tengah bencana banjir yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata menteri utama Kerala Pinarayi Vijayan. "Untuk pertama kalinya dalam sejarah, 27 bendungan di negara bagian Kerala harus dibuka. Tidak pernah sebelumnya kami menyaksikan bencana sebesar ini".

Lebih dari 400 pekerja penyelamat dari Lembaga Tanggap Darurat Nasional (NDRF) telah dikerahkan untuk membantu upaya evakuasi. Mereka sebagian besar tentara, angkatan laut dan penjaga pantai yang telah dikirim untuk membantu.

Menurut Departemen Meteorologi India, meski hujan mulai reda dalam beberapa hari terakhir, badai besar diprediksi masih mungkin terjadi dalam seminggu ke depan. Sejumlah wisatawan pun terperangkap banjir di Kerala, termasuk 54 turis asing yang berhasil diselamatkan dari resor pribadi Plum Judy. (Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,