Rupiah Tembus 14.822 per Dolar AS Terlemah Sejak Krismon

Rupiah Tembus 14.822 per Dolar AS Terlemah Sejak Krismon

Rupiah sudah mencapai Rp 14.822 per dolar AS Senin sore ini. (foto - ilustrasi)

Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semakin tertekan capai 1.563 poin (11,6 persen),  terhitung sejak awal tahun hingga saat ini (year to date). Hal itu menjadikan rupiah menjadi salah satu mata uang berkinerja terburuk di Asia tahun ini.
 
Berdasarkan data perdagangan yang dilansir Reuters, dolar AS bergerak dari Rp 13.281 hingga Rp 14.825 sepanjang tahun ini. Hal itu didorong dengan defisit transaksi berjalan hingga krisis lira Turki, yang mengakibatkan kekacauan di pasar negara berkembang seperti Indonesia.
 
Dikutip dari CNBC, Senin (3/9/2018) nilai tukar rupiah yang menyentuh 14.777 per dolar AS saja telah mencapai level terlemahnya sejak tahun 1998. Jatuhnya rupiah ke level terlemah dalam lebih 20 tahun terakhir, mendorong Bank Indonesia (BI) turun langsung mengintervensi ke pasar keuangan.
 
"Kepemilikan asing yang tinggi pada obligasi ditambah dengan utang perusahaan Indonesia dalam dolar yang meningkat, juga membuat rupiah cenderung lebih lemah," kata kepala ekonomi dan strategi di Mizuho Bank Vishnu Varathan.
 
Data Moody's menunjukkan, pemerintah Indonesia tercatat memiliki sekitar 41 persen utang dalam mata uang asing. Apabila rupiah terdepresiasi lebih lanjut, maka utang itu akan lebih mahal untuk dibayar kembali.
 
"Jika kenaikan kredit meningkat lebih lanjut (risiko pasar berkembang) dan harga minyak tetap tinggi menjelang sanksi Iran, maka risiko nilai tukar rupiah capai Rp 15.000 merupakan kondisi yang bahaya," katanya.
 
Saat harga minyak naik akan berkontribusi pada peningkatan tagihan impor negara. Upaya intervensi sendiri dianggap tak terlalu efektif. "Otoritas telah aktif mendukung valas dan pasar obligasi, selama serangan volatilitas. Di tengah penurunan yang lebih luas dalam mata uang regional, upaya intervensi membantu untuk memperlancar downdraft, tetapi akan menjadi tantangan untuk membalikkan arah," kata Ekonom DBS Radhika Rao.
 
Sejauh ini, BI telah melakukan beberapa intervensi. Antara lain menaikkan suku bunga acuan hingga empat kali sejak Mei sampai Agustus. BI juga telah menekan cadangan devisa untuk membeli rupiah di pasar valas.
 
Makin berkurangnya cadangan devisa, pemerintah juga memberlakukan pembatasan impor karena akan menahan defisit neraca berjalan, yang mengukur arus barang, jasa dan investasi masuk dan keluar dari Indonesia. Impor yang lebih sedikit mengurangi kebutuhan untuk menjual rupiah, sebaliknya membeli lebih banyak mata uang asing.
 
Sementara itu, Chief investment officer Deutsche Bank Wealth Management untuk Asia Pasifik Tuan Huynh menulis, defisit transaksi berjalan Indonesia membuat rentan terhadap krisis pendanaan. Ia mencatat, defisit transaksi berjalan melebar menjadi 2 miliar dolar AS pada Juli, atau defisit bulanan terbesar sejak Juli 2013.
 
"Kenaikan suku bunga lebih lanjut akan memicu penguatan dolar AS lebih lanjut. Saat ini pasar melihat Indonesia bekerja keras untuk menjaga stabilitas makroekonomi, dengan menaikkan suku bunga lebih untuk menekan volatilitas nilai tukar dan mempertahankan fiskal," katanya. (Jr.)**
.

Categories:Ekonomi,
Tags:,