Jabar Berupaya Pacu Kualitas Perempuan lewat Sekolah Ibu

Jabar Berupaya Pacu Kualitas Perempuan lewat Sekolah Ibu

Jabar berupaya tingkatkan kualitas perempuan lewat program Sekolah Ibu. (foto - Humas)

Bandung - Pemprov  Jabar  berupaya  meningkatkan  kualitas  peranan perempuan dalam pembangunan dan kehidupan masyarakat sehari-hari melalui "Program Sekolah Ibu".
 
Begitu pentingnya sekolah ibu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dalam siaran pers yang diterima di Bandung, Jumat (21/9/2018) menginstruksikan para bupati dan walikota untuk mendukung pembangunan sekolah perempuan itu.
 
Menurut Emil, program itu sebagai bentuk upaya perlindungan perempuan melalui edukasi. Ia mengatakan, para ibu rumah tangga nantinya akan mengikuti sekolah selama dua sampai tiga bulan, sedangkan kurikulum yang akan digunakan masih dalam tahap pembahasan.
 
Program tersebut lanjutnya, menjadi salah satu langkah menyukseskan semangat "Jabar Juara Lahir dan Batin". "Pak Bupati, Pak Walikota tolong dirikan sekolah perempuan, sekolah untuk ibu-ibu rumah tangga, selama dua sampai tiga bulan untuk menguatkan kekuatan keluarga, nilai ekonomi dan kekuatan melindungi anak-anaknya," katanya.
 
Emil katakan itu, pada acara Pelantikan Ketua TP PKK dan Ketua Dekranasda Kabupaten dan Kota, di Aula Barat Gedung Sate Bandung, Kamis 20 September. "Suatu hari, keberhasilan itu akan menjadi panen dari sebuah semangat 'Jabar Juara Lahir dan Batin'," lanjutnya.

Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat Atalia Praratya memaparkan program itu berawal dari keprihatinannya terhadap banyaknya para ibu rumah tangga yang putus sekolah.

Ia mengemukakan, ilmu yang paling tinggi adalah ilmu yang didapat dari orangtua sendiri, seperti tata krama, sopan santun, nilai-nilai kejujuran hingga keterampilan lainnya. Selain itu, para ibu cenderung kebingungan mengisi waktu luang mereka, setelah mengantar anak mereka ke sekolah.

Diharapkan, sekolah ibu menjadi solusi dalam mengisi waktu secara berkualitas dengan membangun kualitas perempuan Jabar. "Awal ide itu bagaimana saya melihat banyak para ibu yang putus sekolah, dan mereka tampaknya belum cukup mumpuni dalam membangun keluarga dimulai dari rumah sendiri," kata Atalia.

Ia menekankan, tentang pentingnya para ibu rumah tangga terus belajar. "Kami kira ada baiknya para ibu rumah tangga belajar kembali terkait dengan ketahanan keluarga, bagaimana pembangunan perekonomian untuk mandiri. Kami sudah memiliki berbagai masukan, dan saya kira ini bisa dilakukan," katanya.

Mengenai target untuk proyek percontohan atas pelaksanaan program, pihaknya akan menjadikan daerah terpencil di pedesaan sebagai target utama. Hal itu karena perempuan di perkotaan dinilai sudah cukup mumpuni, terlihat dari seringnya berkumpul untuk saling berbagi.

"Kita akan coba justru di daerah terpencil, karena itu yang paling membutuhkan. Kalau di kota besar tampaknya sudah mumpuni. Bahkan mereka ketika berkumpul pun banyak saling berbagi, (sharing). Namun di pedesaan itu menjadi target utama kami," tega Atalia. (Jr.)**
.

Categories:Pendidikan,
Tags:,