Harga Sayuran di Sukabumi Naik Lima Kali Lipat

Harga Sayuran di Sukabumi Naik Lima Kali Lipat

ilustrasi

Sukabumi - Harga sayuran ditingkat petani Sukabumi Jawa Barat saat ini naik lima kali lipat sehingga banyak petani melakukan panen dini untuk mengambil keuntungan.

Seorang petani di Kampung Cirenged, Desa Sukasirna, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Endang, Selasa (25/11/2014) mengatakan saat ini untuk harga sawi mencapai Rp5 ribu/kg di tingkat petani yang awalnya atau pada bulan lalu hanya Rp1.000/kg.

Selain itu, harga kacang panjang yang awalnya hanya Rp2 ribu/kg dijual menjadi Rp6 ribu/kg dan untuk labu sayur yang biasanya satu butir hanya Rp500 sekarang sudah mencapai Rp2 ribu/butir.

"Sudah satu bulan harga sayuran di Sukabumi meningkat, bahkan harganya bisa dua kali lipat dari harga petani jika sudah sampai pasar. Sayuran ini akan langsung dibawa ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta," katanya.

Menurutnya, saat ini banyak petani yang beralih menanam sayuran yang biasanya padi. Bahkan, disaat pasokan sayuran dari daerah lain seperti Bandung dan Karawang menurun, banyak petani yang melakukan panen dini untuk memenuhi permintaan pasar. Selain itu, banyaknya petani yang beralih menanam sayuran masih tetap pasar kekurangan pasokan.

Petani berharap harga sayuran bisa tetap stabil dan tidak anjlok seperti beberapa bulan ke belakang yang harga jualnya tidak cukup untuk menutupi biaya operasional.

Naiknya harga sayuran ini juga disebabkan oleh naiknya harga bahan bakar minyak subsidi ditambah musim penghujan yang menyebabkan sayuran cepat layu jika tidak laku terjual.

"Bagi kami dengan cuaca yang sepanjang hari hujan sangat membantu untuk mempercepat pertumbuhan sayuran, bahkan pasokan air pun menjadi terjamin. Tidak seperti pada musim kemarau sudah sulit menanam ditambah harganya yang anjlok," tambahnya.

Sementara itu, pedagang sayuran Andri mengatakan saat ini harga sayuran naik hingga lima kali lipat padahal kualitas kurang baik, dengan harganya yang melambung ini menyebabkan omset jualannya turun hingga 50 persen, bahkan banyak sayuran yang busuk sebelum terjual karena musim penghujan ini.

"Jika harga sayuran terus melonjak sudah dipastikan penjualan menurun drastis karena daya beli masyarakat tidak akan kuat membeli harga sayuran semahal ini. Dipastikan banyak konsumen yang lebih membeli daging ayam atau ikan karena harganya yang hampir sama setiap kilogramnya," katanya.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, Perindustrian dan Pasar (Diskoperindagsar) Kabupaten Sukabumi, Ela Nurlela mengatakan naiknya harga sayuran ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti minimnya pasokan, biaya operasional yang meningkat dan permintaan cukup tinggi.

Namun, dari pantauannya hingga kini pasokan sayuran ke pasar tradisional masih tersedia dan tidak ada laporan bahwa kekurangan pasokan atau persediaan. (AY)

.

Categories:Ekonomi,
Tags:ekonomi,