Waspadai, 10 Kecamatan di Kota Bandung Rawan Likuifaksi

Waspadai, 10 Kecamatan di Kota Bandung Rawan Likuifaksi

Penjelasan Bappelitbang Kota Bandung dalam gelaran 'Bandung Menjawab' di Balaikota. (foto - Humas)

Bandung - Kota Bandung tampaknya tidak hanya dihantui oleh ancaman musibah yang disebabkan pergerakan patahan (sesar) Lembang. Fenomena pencairan tanah (likuifaksi) juga turut menjadi ancaman ketika diguncang gempa besar.
 
Berdasarkan keterangan Kasubid 1 Perencanaan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Bappelitbang Kota Bandung Andry Heru Santoso, sedikitnya 10 kecamatan di Kota Bandung berpotensi besar terjadi likuifaksi jika gempa terjadi.
 
"Itu terjadi karena tanah tidak bisa membendung kekuatan gempa. Likuifaksi seperti di Petobo Palu bisa terjadi. Sebagian besar 10 kecamatan tersebut berada di Bandung selatan dan timur," sebut Andry kepada wartawan di gelaran "Bandung Menjawab", Kamis (11/10/2018).
 
Kesepuluh kecamatan tersebut, di antaranya Bandung Kulon, Babakan Ciparay, Bojongloa Kaler, Bojongloa Kidul, Astanaanyar, Regol, Lengkong, Bandung Kidul, Kiaracondong serta Antapani.
 
Andry menjelaskan, hal tersebut merupakan hasil penelitian antara Pemkot Bandung, ITB dan United Nation yang dilakukan tahun 1990 - 2000. Dengan demikian, perlu dilakukan penelitian ulang untuk memperbaharui penelitian itu. "Kita perlu update lagi untuk mengetahui, apakah tetap 10 (kecamatan) atau ada penambahan atau pengurangan," katanya.
 
Penelitian tersebut lanjutnya, tidak bermaksud untuk menakuti warga. Namun penelitian itu  adalah bagian dari antisipasi karena musibah tidak bisa diramalkan kapan akan terjadi. Sehingga dengan penelitian itu warga bisa semakin waspada dengan melakukan serangkaian pencegahan dan penanggulangan jika musibah terjadi.
 
Masifnya pengambilan air tanah menyebabkan cadangan air pun semakin menipis. Hal itu juga berdampak pada penurunan tanah seperti di kawasan pabrik garmen, seperti di kawasan Kopo atau pun di perbatasan Kota Cimahi.
 
"Fenomena tersebut bisa saja terjadi karena perkembangan Bandung yang sangat pesat. Banyak pembangunan vertikal, kawasan padat penduduk. Artinya, perlu penanganan bencana agar bisa diminimalisir dampaknya," tegas Andry.

Sebelumnya peneliti dari LIPI Adrin Tohari mengatakan, Cekungan Bandung didominasi tanah lengkung bukan tanah pasir yang mudah terjadi likuifaksi. "Likuifaksi berada di tanah pasir. Kalau tanah lengkung potensinya tidak ada," katanya.

Alih-alih mengalami likuifaksi, wilayah Cekungan Bandung justru berpotensi mengalami amplifikasi. Artinya, getaran yang terjadi dampak gempa akan lebih besar dirasakan di permukaan karena didominasi lapisan tanah lengkung.

"Jadi kalau tanah lengkung kena guncangan dia akan memperkuat getaran. Jadi kalau likuifaksi itu bangunan tidak akan rusak strukturnya tapi dia turun (amblas). Namun kalau karena guncangan (amplifikasi) struktur atau dinding bangunan akan kolaps hingga runtuh," ungkapnya. (Jr.)**
.

Categories:Bandung,
Tags:,