Samaira Mehta Sukses Curi Perhatian Google dan Microsoft

Samaira Mehta Sukses Curi Perhatian Google dan Microsoft

Samaira Mehta. (foto - Business Insider)

California - Sekilas Samaira Mehta tampak seperti anak berumur 10 tahun kebanyakan. Namun siapa sangka, gadis yang tumbuh dan besar di Silicon Valley itu telah menjadi panutan bagi anak seumurnya karena kerjanya sebagai coder dan programer.
 
Mehta telah belajar coding sejak berusia enam tahun. Di usia delapan tahun, ia menciptakan board game pertamanya, CoderBunnyz yang juga mengajarkan anak-anak tentang coding. Sejak saat itu, sepak terjang Mehta banyak diliput media, dan ia sering menjadi pembicara di banyak konferensi di Silicon Valley.
 
Mehta pertamakali curi perhatian ketika tampil di video buatan stasiun TV Cartoon Network, yang mencari anak-anak kecil yang diprofilkan sebagai 'Powerpuff Girls' di dunia nyata. Setelah itu, Mehta ia juga menjabat sebagai CEO CoderBunnyz, mulai muncul di berbagai media dan menjual board game buatannya di Amazon. "Kami telah menjual 1.000 kotak, jadi lebih dari 35.000 dolar AS setara Rp 531 juta, dan ini baru tersedia di pasar selama satu tahun," kata Mehta.
 
Seperti dilansir Business Insider, Senin (22/10/2018) selain meluncurkan CoderBunnyz dibantu ayahnya yang merupakan teknisi Intel, Mehta juga menggunakan game itui untuk membentuk workshop coding bagi anak-anak usia sekolah.
 
Ia meluncurkan inisiatif 'Yes, 1 Billion Kids Can Code' yang memungkinkan orang-orang mendonasikan game ini ke sekolah. Mehta pun membentuk workshop untuk membantu anak-anak di sekolah untuk menguasai game buatannya.
 
Sejauh ini, CoderBunnyz telah digunakan di 106 sekolah untuk mengajarkan coding ke anak-anak.  Suksesnya CoderBunnyz, ia berkolaborasi dengan adiknya yang masih berusia enam tahun untuk meluncurkan sekuelnya.
 
Masih dalam bentuk board game, game yang disebut CoderMindz ingin mengajarkan anak-anak tentang coding menggunakan kecerdasan buatan (AI). Dengan CoderMindz, anak-anak akan belajar prinsip dasar AI seperti melatih model AI, inferensi dan adaptive learning.
 
Keterampilan itu nantinya dapat digunakan anak-anak untuk membangun robot. Dengan meningkatnya popularitas CoderBunnyz, membuat Mehta menjadi sering mengadakan workshop. Bahkan, ia sudah melakukan 60 workshop di Silicon Valley yang diikuti 2.000 anak.
 
Salah satu lokasi workshop tersebut, yakni di markas Google yang bertempat di Mountain View California AS. Di sana Mehta bertemu dengan Chief Culture Officer Stacy Sullivan, yang menawarkannya untuk bekerja di Google.
 
"Setelah beberapa kali workshop di markas Google, kami berbicara selama satu jam. Ia berkata, saya melakukan hal yang hebat dan setelah lulus kuliah saya bisa bekerja di Google," aku Mehta. Ia sendiri berkata kepada Sullivan, dirinya tidak tahu apakah ia ingin bekerja untuk Google atau tidak.
 
Menurut Mehta, ia lebih suka menjadi seorang entrepreneur. Sullivan sendiri sangat terkesan dengan Mehta, hingga menjadikannya salah satu pembicara utama di konferensi Diversity in Tech yang diadakan Google pada Agustus.
 
Selain Google, Mehta juga pernah berbicara di konferensi Women in Technology yang diadakan Microsoft. Mehta juga pernah bertemu dengan beberapa figur penting lainnya. Antara lain bertemu CEO Facebook Mark Zuckerberg saat Halloween. Saat itu, Mehta sedang 'trick-or-treating' di sekitar rumah Zuck.
 
"Saya akhirnya bisa bertemu dengan dia. Ia sedang membagi-bagikan coklat," kenang Mehta. "Saya memberitahunya, saya adalah coder muda dan ia memintaku untuk terus melakukannya dan menyebut saya hebat".
 
Selain Zuckerberg, Mehta juga pernah menerima surat dari mantan ibu negara AS, Michelle Obama.  Sama seperti banyak jagoan Silicon Valley lainnya, Mehta juga tidak lupa dengan kegiatan amalnya. Saat bisnisnya mulai mendapatkan keuntungan, ia pun menyisihkan untuk yayasan amal PATH yang membantu tunawisma.  (Jr.)**
.

Categories:Infotech,
Tags:,