Polisi Hongkong Tangkap 80 Demonstran

Polisi Hongkong Tangkap 80 Demonstran

Polisi Hongkong Tangkap 80 Demonstran. (Foto: Net)

Hongkong - Polisi Hongkong menyemprot para pengunjuk rasa pro demokrasi dengan cairan merica dan menangkap 80 orang, Selasa (25/11/2014) ketika mereka bergerak untuk membersihkan satu jalan kota yang dihalangi demonstran selama hampir dua bulan.
 
Para personel polisi yang menggunakan helm, dengan membawa alat-alat pemukul, berhadap-hadapan dengan puluhan pengunjuk rasa di satu kawasan di distrik Mongkok, tempat pengunjuk rasa dan polisi sering bentrok sejak aksi duduk mulai di tiga perempatan terpisah di kota itu pada 28 September.
 
Seorang wanita juru bicara kepolisian mengatakan para petugas menggunakan cara lain yang serupa menyemprot pengunjuk rasa dengan cairan merica untuk membubarkan mereka dalam beberapa pekan baru-baru ini.
 
"Saya tak dapat membuka mata saya," kata seorang demonstran yang bernama depan Mok kepada AFP. "Saya mengenakan baju lengan panjang tapi tangan saya terasa sakit." "Anda sudah ikut serta dalam perkumpulan gelap, saat ini polisi memerintahkan Anda semua segera membubarkan diri," kata para petugas kepada pengunjuk rasa melalui pengeras suara sebelum menembakkan cairan itu dengan alat penyemprot ke arah mereka dari atas kendaraan.
 
Para pengunjuk rasa, yang memperotes pembatasan Tiongkok atas siapa yang akan diizinkan mengikuti pemilihan kepemimpinan pada 2017 di kota tersebut, memakai kaca mata atau membentangkan payung-payung guna melindungi dirinya.
 
Jubir polisi itu mengatakan kepada AFP 80 orang telah ditahan sejak Selasa malam. Mereka ditahan karena kejahatan menghina perintah pengadilan supaya membersihkan jalan tersebut, karena menyerang polisi dan karena berkempul secara ilegal.
 
Penangkapan tersebut mulai dilakukan Selasa pagi ketika sejumlah pengunjuk rasa menolak bubar setelah para pekerja membersihkan penghalang-penghalang di Argyle Street di Mongkok.
 
Di antara yang ditahan ialah anggota parlemen Leung Kwokhung. Tahanan yang paling muda ialah seorang anak laki-laki berusia 14 tahun, kata seorang pengacara yang bekerja bagi para pemerotes.
 
"Saya tak mau pergi. Saya biarkan mereka menahan saya," ujar Ng Pun-tuk, 78 tahun, yang mengenakan helm, kepada AFP sebelumnya ketika dia bergabung dengan kerumunan demonstran.
 
"Ini kesempatan sekali dalam hidup untuk mencapai demokrasi. Saya siap dipenjarakan," kata Ng.(AY)
.

Categories:Internasional,