PGN Uji Coba Gas Meter

PGN Uji Coba Gas Meter

PGN Uji Coba Gas Meter

Bandung - PT Perusahaan Gas Negara melakukan uji coba gas meter atau alat pengukur penggunaan pelanggan elpiji di wilayah DKI Jakarta.
 
"Saat ini sudah diuji coba alat gas meter prabayar, nantinya pelanggan PGN bisa mengatur sendiri penggunaan gas yang akan dikonsumsinya," kata General Manager PT PGN SBU I Suko Hartono di Bandung, Rabu (26/11/2014).
 
Menurut dia, perangkat gas meter itu sudah diuji teknik. Secara umum tidak ada masalah dan tahap berikutnya melakukan pengujian keekonomian dari perangkat itu.
 
Selama ini, kata Suko pelanggan gas dari pipa PGN menggunakan gas meter pasca bayar dimana pelanggan membayar dulu penggunaan gas setelah dilakukan pemeriksaan meteran gas dengan secara manual oleh petugas.
 
"Dengan perangkat ini tidak perlu ada petugas lagi yang mencatat konsumsi di rumah tangga, tapi pelanggan bisa membeli token untuk selanjutnya menggunakan gas itu sesuai dengan token yang dibelinya," kata Suko.
 
Saat ini pelanggan jaringan gas PGN saat ini di wilayah Jabotabek, sedangkan di daerah lainnya belum ada jaringan gas seperti di DKI Jakarta.
 
Namun demikian, Suko Hartono tidak menyebutkan nilai keekonomian dari penggunaan gas meter yang sedang diuji tersebut. Namun ke depan bila perangkat itu digunakan pelanggan PGN bisa membeli token sepertihalnya pelanggan PLN yang menggunakan meteran prabayar.
 
"Sistemnya nanti sama eperti listrik prabayar," katanya.
 
Sementara itu manager distributor meteran gas dari Kita Hokki Reddy menyebutkan perangkat gas meter prabayar itu bisa lebih efektif dan pelanggan bisa menghemat listrik cukup besar.
 
"Gas meter ini secara teknis tidak ada masalah dan bisa digunakan di pelanggan gas PGN di wilayah Jakarta. Namun masih dihitung nilai keekonomiannya, pasalnya sebagian besar pelanggan adalah pelanggan rumah tangga yang tingkat konsumsi gasnya tidak terlalu signifikan," kata Reddy.
 
Ia menyebutkan, gas meter prabayar itu juga bisa menghemat biaya penggunaan gas dibandingkan dengan menggunakan sistem pasca bayar.
 
"Untuk konsumsi rumah tangga mungkin tidak akan lebih dari Rp65 ribu per bulan, pelanggan tinggal beli token sepertihalnya listrik prabayar. Sosialisasinya mungkin tidak akan jauh dari sistem listrik prabayar itu," kata Reddy.
 
Terkait kemungkinan pengembangan jaringan pipa gas di kota lainnya, seperti di Kota Bandung sangat memungkinkan, yakni dengan melakukan pasokan gas di tanki portable yang kemudian didistribusikan kepara pelanggan.
 
"Pelayanan jaringan pipa gas saat ini di daerah yang sudah ada pasokan gasnya, namun di daerah lain juga bisa membangun jaringan itu dengan menggunakan tanki gas, memungkinkan sistem ini di apartemen," kata Reddy. (AY)
.

Categories:Bandung,