Puting Beliung Bogor 572 rumah 4 kecamatan Porakporanda

Puting Beliung Bogor 572 rumah 4 kecamatan Porakporanda

Puting beliung di wilayah Kota Bogor porakporandakan 572 rumah di empat kecamatan. (foto - ist)

Jakarta - Sapuan  angin  puting  beliung di  wilayah  Kota  Bogor  telah  memporakporandakan ratusan rumah warga, pada Kamis 6 Desember 2018 sore, yang meliputi empat kecamatan. Selain angin puting beliung, banjir, longsor dan pohon tumbang juga terjadi di sejumlah titik.
 
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih melakukan pendataan, terkait dampak kerusakan yang ditimbulkan. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, puting beliung yang menerjang wilayah Kota Bogor telah menyebabkan korban jiwa, ratusan rumah rusak dan banyak pohon tumbang.
 
"Penanganan dan pendataan dampak bencana masih dilakukan," kata Sutopo dalam keterangannya, Jumat (7/12/2018). Dampak kerusakan yang melanda empat kecamatan di Kota Bogor meliputi Kecamatan Bogor Selatan, Bogor Timur, Bogor Tengah dan Bogor Utara.
 
"Total rumah rusak di Kelurahan Pamoyanan, Kelurahan Cipaku, Kelurahan Batutulis (Bogor Selatan), Kelurahan Babakan Pasar (Bogor Tengah), Kelurahan Sukasari, Kelurahan Baranangsiang (Bogor Timur) mencapai 572 rumah, termasuk rusak ringan dan rusak berat," kata Sutopo.
 
Menurutnya, kerusakan rumah pada umumnya rusak berat pada bagian atap rumah yang terbawa angin, selain itu kerusakan juga pada instalasi kabel listrik. Fasilitas umum yang terdampak yaitu Stasiun Batutulis di mana atap stasiun berterbangan terbawa angin puting beliung, dan kabel listrik  terputus.
 
Untuk saat ini lanjut Sutopo, petugas telah mendirikan posko darurat pengungsian bagi warga yang terdampak kejadian angin puting beliung di Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Bogor Selatan. Namun saat ini sebagian warga masih mengungsi di Masjid Al-Muhtadin.
 
"Sejauh ini, kerugian materi belum bisa diperkirakan. Laporan ini dibuat sesuai data dari TRC PB BPBD Kota Bogor dan informasi ini akan terus di-update sesuai perkembangan di lokasi kejadian," tambahnya.
 
Sementra itu, Kabag Humas BMKG Hary Tirto Djatmiko  menjelakan, fenomena hujan deras disertai puting beliung biasa terjadi di masa transisi musim kemarau ke musim hujan, begitu juga sebaliknya.  "Indikasi terjadinya hujan deras disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat. Sehari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah," katanya.
 
Ia menyatakan, udara terasa panas dan gerah diakibatkan adanya radiasi matahari yang cukup kuat ditunjukkan perbedaan suhu udara (> 4.5°C) antara pukul 10.00 dan 07.00. Selain itu ada kelembaban udara yang cukup tinggi.
 
Mulai pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan putih berlapis-lapis atau awan Cumulus. Di antara awan itu ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol.
 
"Tahap berikutnya awan tersebut cepat berubah warna menjadi abu-abu atau hitam yang dikenal dengan awan Cumulonimbus. Jika 1-3 hari berturut-turut tak ada hujan di musim transisi, ada indikasi potensi hujan deras turun diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun tidak," lanjutnya.
 
Berdasarkan keterangan UPT BMKG Stasiun Klimatologi (Staklim) Bogor, pada pukul 14.30-15.30 WIB citra satelit Himawari terpantau liputan awan konvektif dengan jenis Cumulonimbus di wilayah Bogor selatan.
 
Awan itu dapat menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang, puting beliung serta kilat atau petir. Rapatnya pusaran angin lemah di Selat Sunda lalu membentuk daerah pertemuan angin (konvergensi) dan perlambatan angin di wilayah Jabar. Kondisi itu mendukung terbentuknya suplai awan hujan di daerah Jabar. (Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,