Menpar Raih 'Best Marketing Minister of Tourism of ASEAN'

Menpar Raih 'Best Marketing Minister of Tourism of ASEAN'

Menpar Arief Yahya raih penghargaan 'The Best Marketing Minister of Tourism of ASEAN' pada acara Anugerah MarkPlus Marketeer of The Year. (foto - kemenpar)

Jakarta - Menteri  Pariwisata  Arief  Yahya  meraih  penghargaan  "The  Best  Marketing  Minister of  Tourism of ASEAN" di acara Anugerah MarkPlus Marketeer of The Year (MoTY) 2018, pada Kamis 6 Desember. Hal itu membuatnya makin percaya diri dalam mempromosikan pariwisata Indonesia.
 
"Sebuah kehormatan bagi saya, ini merupakan penghargaan bagi upaya dan dedikasi seluruh jajaran Kementerian Pariwisata. Sekarang kami makin pede membawa National Brand Wonderful Indonesia," kata Arief.
 
Namun ia menilai, apa yang didapat berkat dukungan orang-orang sekitarnya, termasuk dari Presiden Jokowi di sektor pariwisata. "Tak ada orang yang lebih besar dari organisasinya. Ini bukan hasil saya pribadi, saya persembahkan untuk segenap jajaran Kemenpar dan dukungan Bapak Presiden yang menetapkan pariwisata salah satu sektor prioritas, serta segenap kementerian teknis yang membantu,” katanya.
 
Sejauh ini, Arief telah mengubah institusinya dari sebelumnya berupa kementerian yang penuh birokrasi, menjadi kementerian yang mirip korporasi. Kemenpar dipoles menjadi bertindak sebagai marketing lewat promosi dan pengembangan wisata. "Saya terapkan WIN Way, Wonderful Indonesia Way, jurusnya 3S. Ini untuk membangun budaya kerja atau corporate culture Kemenpar, yakni Solid, Speed, Smart," tegas Arief.
 
Doktor jebolan Unpad Bandung itu memang punya skema kerja yang sistematis. Semua ia kerjakan secara simultan, seperti halnya deregulasi yang menjadi perhatiannya. Arief Yahya mampu mendorong kebijakan Visa Free untuk 169 negara, dari sebelumnya hanya 15 negara ASEAN.
 
Deregulasi juga dilakukan di bidang yacht, perahu pesiar dengan penghapusan CAIT. Dengan ini izin masuk yacht langsung terpangkas hanya dengan 3 jam, dari sebelumnya 3 minggu. Pun regulasi kapal cruise dengan pencabutan sabotage. Regulasi itu memungkinkan kapal pesiar berbendera asing menaik-turunkan penumpang di 5 pelabuhan di Tanah Air.
 
Di bidang pemasaran, Arief Yahya sudah melakukan banyak terobosan hingga branding Wonderful Indonesia menembus peringkat 47, dari sebelumnya not available (N/A). Branding Wonderful Indonesia sudah mengalahkan Malaysia (94) dan Thailand (83).
 
Bahkan, ia membawa Kemenpar terpilih sebagai The Best Ministry Of Tourism atau Best National Tourism Organization (NTO) di ajang TTG Travel Awards 2018 di Bangkok. Di level dunia UN-WTO, Indonesia memborong 3 awards langsung. Di Halal Tourism Abu Dhabi juga menggondol 3 penghargaan langsung.
 
Sedangkan bidang pengembangan destinasi dan industri, Menpar Arief menggenjot pengembangan 10 Bali Baru agar sejalan dengan Nawacita untuk pemerataan. Menpar pun mendorong digital destination serta nomadic tourism. Hasilnya kedua program itu booming.
 
Nomadic tourism mini digandrungi industri pariwisata. Peminatnya pun banyak, begitu juga digital destination. Menggandeng Generasi Pesona Indonesia (GenPI), destinasi itu menjadi salah satu kekuatan pariwisata Indonesia.
 
"Kita akan punya 10 Bali Baru agar pengembangan pariwisata terus berkembang, merata sekaligus mengejar target 20 juta wisman ke Tanah Air. Dengan destinasi yang ada, tidak mungkin menembus jumlah target itu".
 
Mengenai destinasi, Arief Yahya menggunakan konsep 3A, membangun atraksi, akses dan amenitas. Pola dan rumusnya terus disosialisasikan di daerah. Semakin banyak daerah yang minta agar kawasannya dibangun akses dan amenitas. Semua berlomba membangun kawasan ekonomi khusus (KEK) Pariwisata.
 
Pada 2016, devisa pariwisata mencapai 13,5 miliar dolar AS per tahun. Hanya kalah dari minyak sawit mentah (CPO) sebesar 15,9 miliar dolar AS per tahun. Padahal pada 2015 lalu, pariwisata masih ada di peringkat keempat sebagai sektor penyumbang devisa terbesar.
 
Sementara tahun 2017, sumbangan devisa sektor pariwisata melesat menjadi 16,8 miliar dolar AS. Angka ini diprediksi akan meningkat 20 persen menjadi sekitar 20 miliar dolar AS pada 2018. "Kami akan terus mencari celah untuk menaikkan jumlah wisman di 5 prioritas pasar, yakni Singapore, Malaysia, Cina, Australia dan Jepang." katanya.
 
Dengan demikian,  sektor pariwisata akan tumbuh menjadi kekuatan utama terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia. Modal kita sudah kuat, dan pariwisata adalah DNA kita," tambah Arief Yahya. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,

terkait

    Tidak ada artikel terkait