Beberapa Kota di Indonesia Terindikasi Hujan Asam

Beberapa Kota di Indonesia Terindikasi Hujan Asam

ilustrasi hujan asam. (Foto: Net)

Jakarta - Beberapa kota di Indonesia terindikasi mengalami hujan asam dengan nilai rata-rata pH air hujan pada 2001-2013 berkisar 4,3 - 5,6.
 
"Terlihat bahwa di titik pemantauan deposisi asam di Bandung, Serpong (Tangerang Selatan), Jakarta, Kototabang, dan Maros terindikasi terjadi deposisi asam," kata Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Arief Yuwono di Jakarta, Rabu (26/11/2014).
 
Deposisi asam adalah terdeposisinya asam-asam di atmosfer baik dalam bentuk gas maupun cairan ke tanah, sungai, hutan dan tempat lainnya melalui tetes air hujan, kabut, embun, salju, aerosol yang jatuh bersama angin.
 
Asam-asam tersebut berasal dari kegiatan manusia (anthropogenic) seperti emisi pembakaran batubara dan minyak bumi, serta emisi dari kendaraan bermotor. Kegiatan alam seperti letusan gunung berapi juga dapat menjadi salah satu penyebab deposisi asam.
 
Indikasi terjadinya deposisi asam adalah pH air hujan di bawah 5,6 dan dalam bahasa umum biasa juga disebut "hujan asam".
 
Deposisi asam di atmosfer terjadi melalui proses katalitis dan fotokimia gas-gas sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx) yang biasanya diemisikan dari industri dan kendaraan bermotor menjadi senyawa asam H2SO4 dan HNO3.
 
Deposisi asam yang turun akan membasahi tanah dan benda-benda di permukaan bumi, mengalir melalui sungai hingga ke danau atau rawa-rawa dan selanjutnya akan memberikan dampak yang negatif.
 
Deposisi asam yang jatuh ke tanah dan mengalir ke sungai, danau dan rawa akan menyebabkan penurunan nilai pH air permukaan sehingga populasi akuatik akan berkurang atau bahkan menghilang.
 
Deposisi asam baik basah maupun kering dapat merusak bangunan, patung, kendaraan bermotor dan benda yang terbuat dari batu, logam atau material lain bila diletakkan di area terbuka untuk waktu yang lama.
 
Asam yang bereaksi dengan senyawa lain akan menyebabkan kabut polusi (urban smog) yang mengakibatkan iritasi pada paru-paru, asma, bronkitis dan penyakit pernapasan lainnya.
 
Arief mengatakan pengendalian deposisi asam dapat dilakukan dengan cara efisiensi dan preservasi energi, pengembangan nonfossil fuel dan teknologi ramah lingkungan.
 
Untuk itu diperlukan peran serta pemerintah, masyarakat dan seluruh stake holder yang terintegrasi dalam manajemen pengendalian deposisi asam sehingga tercipta pembangunan berkelanjutan. (AY)
.

Categories:Nasional,
Tags:bencana,