Ribuan Rumah di Pekanbaru Terendam Banjir

Ribuan Rumah di Pekanbaru Terendam Banjir

451 Titik Jalan Rusak di Jakarta Timur Diperbaiki

Pekanbaru - Sebanyak 2.455 rumah di wilayah Kecamatan Rumbai Pesisir, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, terendam banjir akibat hujan yang terjadi secara terus menerus sejak satu pekan terakhir.
 
"Banjir terjadi sejak akhir pekan lalu atau sudah sekitar lima hari sampai dengan saat ini," kata Camat Rumbai Pesisir, Pekanbaru, Nurhesminsyah kepada Antara saat meninjau lokasi banjir di wilayah Kelurahan Limbungan Baru, Rumbai Pesisir, Rabu siang (26/11/2014).
 
Saat ini, lanjutnya, bencana banjir terus meluas dan ketinggian air meningkat dibandingkan sebelumnya.
 
Menurut dia, sebagian kawasan termasuk ratusan rumah terendam air hingga ketinggian 1,5 meter dan paling banyak atau ribuan rumah terendam dengan ketinggian air mulai dari semata kaki orang dewasa hingga betis dan lutut.
 
"Hari ini banjir makin parah karena jebolnya salah satu tanggul di Kelurahan Limbungan Baru. Saat ini di satu kelurahan ini ada lebih 150 rumah yang terendam," katanya.
 
Dia mengatakan, banjir juga merendam dua kelurahan lainnya meliputi Kelurahan Meranti dan Limbungan dan berada saling berdekatan.
 
"Totalnya ada sebanyak 2.455 rumah terendam. Untuk perkiraan jumlah kepala keluarga yang menjadi korban banjir sekitar 3.000 keluarga," katanya.
 
Menurut pantauan, banjir di tiga kelurahan itu disebabkan berbagai faktor, termasuk tatanan drainase atau saluran air yang tidak baik serta penumpungan sampah pada gorong-gorong.
 
Untuk banjir di Kelurahan Limbungan Baru, terpantau penyebabnya selain jebolnya tanggul juga karena ada pengerjaan proyek jembatan yang tidak baik, dimana sampah bangunan menutupi jalur arus sungai hingga mengakibatkan air meluap.
 
Banjir di satu kelurahan itu terpantau turut merendam sejumlah badan jalan meliputi Jalan Puspa Indah dan Jalan Ampera serta badan jalan lainnya yang berada saling berdekapan.
 
Bencana itu mengakibatkan sejumlah aktivitas masyarakata terhambat, bahkan beberapa kendaraan bermesin roda dua mogok setelah cela pembuangan polusi tersusup air.
 
"Ini banjir yang paling dalam selama setahun ini. Sebelumnya memang sering banjir tapi tidak sampai separah ini," kata Parsiman (35) warga Jalan Ampera.
 
Sementara Ari (30), warga yang bermukim di Jalan Puspa Indah terpantau sedang menggendong seorang balita anaknya, berjalan bersama isterinya yang hendak pergi ke kantor.
 
"Kemarin dia sudah cuti untuk membersihkan rumah akibat banjir. Sempat surut hari ini air naik lagi tapi harus tetap bekerja karena sebelumnya telah cuti," katanya.
 
Di dua lokasi pada Kelurahan Limbungan Baru ini, ketinggian air menutupi badan jalan hingga menjangkau lutut orang dewasa atau sekitar 60 cemtimeter.
 
Sementara itu, untuk banjir di Kelurahan Limbungan dan Meranti Pandak, terpantau ketinggian air hingga mencapai 1,5 meter, merendam ribuan rumah, mengakibatkan ratusan keluarga terpaksa mengungsi.
 
"Sebagian warga mengungsi ke tenda darurat yang dibangun Dinas Sosial, dan sebagian lagi mengungsi ke rumah-rumah warga yang tidak terkena banjir," kata Anton (45), warga Meranti Pandak.
 
Di Meranti Pandak, terlihat ada beberapa kawasaan kompleks perumahan yang berdekatan dengan anak sungai terkena banjir paling parah.
 
Di wilayah itu, bahkan air terlihat telah menutupi jendela sejumlah rumah, lebih parah beberapa rumah di tepian anak sungai yang mengalami kerusakan, dinding-dinding rumah bagian luar mulai retak.
 
Kebanyakan warga di kompleks perumahan ini memilih mengungsi ke tenda-tenda darurat yang disediakan serta ke rumah warga yang tak terkena banjir.
 
Kemudian banjir di Kelurahan Limbungan terpantau telah menimbulkan kepanikan, dimana sejumlah warga mulai mengungsikan sejumlah barang berharga miliknya.
 
"Biasanya kalau sudah musim hujan seperti ini, air masih akan terus naik," kata Anisa (23), ibu muda yang menetap di sekitar kawasana aliran Sungai Siak.
 
Beberapa warga terpantau beraktivitas memindahkan barang berharga menggunakan sampan, namun Anisa terpaksa berjalan mengarungi genangan air karena keterbatasan sampan.
 
Anisa mengemas barang-barang dibantu dengan Irfan (34), suaminya. "Kalau anak saya sudah saya ungsikan ke rumah saudara di wilayah Kecamatan Tenayan Raya yang tidak banjir," katanya.
 
Sementara itu, di tenda darurat yang dibangun oleh Dinas Sosial Pekanbaru di kawasan Kelurahan Limbungan dan Meranti Pandak terlihat telah diisi oleh sejumlah korban banjir.
 
Rata-rata merupakan kalangan wanita dewasa yang membawa anak-anak mereka yang masih berusia kurang dari luma tahun. Sementara para suami diakui ketika siang harus tetap berada di rumah yang kebanjiran untuk mengawasi barang-barang berharga yang tertinggal.  (AY)
.

Categories:Nasional,
Tags:bencana,