Gadis Saudi Kabur Setelah Terancam Dibunuh Keluarganya?

Gadis Saudi Kabur Setelah Terancam Dibunuh Keluarganya?

Rahaf Mohammed al-Qunun bersama otoritas imigrasi Thailand dan perwakilan UNHCR di Bandara Suvarnabhumi Bangkok. (foto - AFP)

Bangkok - Rahaf  Mohammed  al-Qunun,  seorang  gadis  asal  Arab  Saudi  lari  dari  keluarganya untuk mencari suaka. Ia mengaku terpaksa melarikan diri karena terancam dibunuh oleh pemerintah atau keluarganya sendiri.
 
Dilansir kantor berita BBC, Rahaf menyebutkan alasan di balik ketakutannya itu adalah karena dirinya menyatakan keluar dari Islam, atau disebut juga murtad.
Setelah terancam dideportasi, Rahaf akhirnya tetap berada di Bangkok di bawah perlindungan pemerintah Thailand dan Agensi Pengungsian Perserikatan Bangsa-
Bangsa, pada Senin 7 Januari malam waktu setempat.
 
Setelah bersama UNHCR, al-Qunun menuliskan perkembangan situasinya di Twitter. "Hei, saya Rahaf. Saya dengan ayah saya baru saja tiba (di Bangkok), dan hal itu membuat saya takut. Saya ingin pergi ke negara lain untuk mendapat suaka. Tapi setidaknya sekarang saya merasa aman di bawah perlindungan UNHCR dan perjanjian dengan otoritas Thailand. Dan saya akhirnya kembali mendapatkan paspor," tulisnya, Selasa 8 Januari 2019.
 
Paspor Rahaf sendiri sempat disita oleh seorang diplomat Arab Saudi, ketika dirinya mendarat di Bangkok pada Sabtu 5 Januari. Thailand awalnya mengaku hendak mendeportasi Rahaf karena perempuan berusia 18 tahun itu tidak memiliki visa Thailand.
 
Namun demikian, Rahaf menegaskan dirinya memiliki visa Australia, dan sejak awal juga tidak ingin tinggal di Thailand. Sementara pemerintah Arab Saudi mengatakan, otoritas Thailand menahan Rahaf karena "melanggar aturan".
 
Pada Senin lalu, otoritas Thailand menegaskan akan melindungi Rahaf dari siapa pun, termasuk pihak Kedubes. Rahaf kemudian dibawa oleh perwakilan UNHCR setelah sempat membuat perjanjian dengan otoritas Thailand.
 
Wakil Direktur Asia di Human Rights Watch (HRW), Phil Robertson mengatakan, pemerintah Thailand sempat mengarang cerita bahwa dia (Rahaf) pernah mencoba mengajukan visa dan ditolak. Padahal, faktanya dia sudah punya tiket (dan visa) ke Australia. Dia tidak ingin masuk Thailand sejak awal".
 
Kebebasan beragama tidak secara resmi dilindungi di Arab Saudi. Warga yang meninggalkan Islam atau berpindah ke agama lain berpotensi dijerat hukum kemurtadan (apostasy). Warga Saudi yang dijerat hukum semacam itu terancam divonis hukuman mati.
 
Salah seorang teman yang sempat menulis di akun Twitter Rahaf, Noura menyatakan kenal dengan Rahaf di grup feminis Saudi. Ia juga mengaku telah "melarikan diri" dari Arab Saudi karena sudah menjadi "eks Muslim".
 
Menurut Noura, Rahaf adalah mahasiswi di sebuah universitas Saudi. Ia meyakini ayah Rahaf bekerja untuk pemerintah Saudi. "Keluarga dia mengurungnya di rumah selama sekitar enam bulan karena dia memotong rambutnya," kata Noura.  “Saya terus berbicara dengannya setiap 20 menit. Dia sangat ketakutan". (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,