Otoritas AS Ciduk Jurnalis Televisi Iran tanpa tuduhan Jelas

Otoritas AS Ciduk Jurnalis Televisi Iran tanpa tuduhan Jelas

Merzieh Hashemi (59) ditangkap otoritas AS. (foto - Getty Images)

Washington DC - Otoritas  Amerika  Serikat  menangkap seorang  jurnalis Amerika yang bekerja untuk stasiun televisi Iran, Press TV. Jurnalis bernama Merzieh Hashemi (59) itu ditangkap dengan dakwaan yang belum jelas.
 
Merzieh ditangkap seusai mendarat di Bandara Internasional St Louis Lambert, pada Minggu lalu. Demikian disampaikan salah seorang penyiar televisi Iran. Press TV dalam laporannya menyebutkan, sesaat setelah ditangkap, Merzieh langsung dibawa oleh anggota FBI ke ruang tahanan di Washington DC.
 
"Sejauh ini, pihak keluarganya tak bisa menghubungi, dan dia hanya diizinkan menghubungi anak perempuannya dua hari setelah ditahan," kata penyiar televisi Iran dalam laporannya.
 
Dilansir Al Jazeera, Kamis (17/1/2019) Hashemi menceritakan anaknya diborgol dan dibelenggu serta diperlakukan seperti seorang kriminal. Beberapa penjara lokal di sekitar Washington yang menampung narapidana federal mengatakan, tak ada Merzieh dalam tahanannya.
 
Namun, pejabat FBI sendiri tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentarnya terkait masalah tersebut. Merzieh yang memiliki nama lahir Melanie Franklin berada di AS untuk mengunjungi keluarganya.
 
Mualaf itu mengatakan sebagaimana dikutip penyiar televisi Iran, dia dicegah menjalankan keyakinannya termasuk menggunakan jilbab. Ia juga ditawari daging babi yang dilarang dalam ajaran Islam. Makanan yang dia konsumsi selama dua hari hanya sebungkus biskuit. Namun, terkait perlakuan yang diterimanya ini belum bisa diverifikasi.
 
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Bahram Qasemi menyerukan, pembebasan Diupayakan Merzieh sesegera mungkin. "Kami mengutuk penangkapan ilegal Merzieh Hashemi, reporter dan presenter Press TV, dan perlakuan tak manusiawi yang diterimanya di penjara di Washington," kata Qasemi.
 
Kabar penangkapan Merzieh Hashemi muncul di tengah memanasnya hubungan AS - Iran. Dalam kunjungannya ke Timur Tengah baru-baru ini, Sekretaris Negara AS Mike Pompeo mengatakan, AS tengah memperkuat upayanya dalam menekan Iran, atas tuduhan melakukan destabilisasi wilayah.
 
Ia berjanji akan mengusir setiap jejak terakhir Iran di Suriah, dan mendesak sekutunya untuk bersatu melawan Iran. Sementara Presiden AS Donald Trump menarik AS dari perjanjian nuklir Iran 2015 tahun lalu, dan menerapkan kembali sanksi terhadap Teheran.
 
Bahkan ketika mitra lainnya dalam kesepakatan itu  termasuk Cina, Perancis, Jerman, Rusia dan Inggris, pihak Amerika Serikat  telah berupaya untuk mempertahankannya.  (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,