Ikan Berkepala Buaya Gegerkan Warga di Singkawang Barat

Ikan Berkepala Buaya Gegerkan Warga di Singkawang Barat

Penemuan ikan berkepala buaya di pinggir Jalan Tani Gang Kelapa Dua Kelurahan Kuala Kecamatan Singkawang Barat. (foto - ist)

Singkawang - Pasukan  Kuning  Singkawang  Kalimantan  Barat  digegerkan  dengan   penemuan   seekor  ikan  berkepala buaya, tepatnya di pinggir Jalan Tani Gang Kelapa Dua Kelurahan Kuala Kecamatan Singkawang Barat.
 
Kepala UPT Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Singkawang Rustam Effendy menyatakan, ditemukannya seekor ikan berkepala buaya itu ketika dia bersama anak buahnya sedang membersihkan saluran yang terletak di Jalan Tani Gang Kelapa Dua.
 
"Ketika sedang berjalan saat membersihkan parit, anak buah saya melihat ada seekor ikan sedang berenang," kata Rustam di Singkawang, Minggu (27/01).
 
Namun, ketika mau ditangkap ikan tersebut sempat lari. "Anggota ke kanan, ikan itu ke kiri. Begitu seterusnya," katanya. Namun, upaya yang dilakukan tak sia-sia, akhirnya seekor ikan berkepala aneh tersebut berhasil menangkap.
 
"Namun, anehnya sewaktu dipukul pakai parang, badan ikan tersebut tidak apa-apa, bahkan sisiknya pun tidak tergores sama sekali, keras kulitnya," katanya.
 
Ikan berkepala aneh itu langsung sedang dibawa oleh anak buahnya. "Tidak tahu mau diapakan. Sewaktu dibawa pakai mobil pun, ikannya masih menggelepar," katanya.
 
Sementara itu, Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Singkawang Dani Arief Wahyudi menduga, jika ikan yang ditemukan itu merupakan ikan sejenis predator yang berasal dari perairan daerah tropis Amerika Selatan. "Ikan itu dinamakan ikan Arapaima Gigas," katanya.
 
Menurutnya, jika dibiarkan cukup berbahaya karena bisa mendominasi spesies lokal. Arapaima Gigas yang merupakan ikan air tawar terbesar di dunia dari perairan daerah tropis Amerika Selatan, berbahaya bila dibudidayakan di Indonesia.
 
Habitat asli spesies ikan Arapaima berasal dari Sungai Amazon yang mempunyai iklim tropis. "Penyebarannya ada pada daerah iklim tropis, antara lain Indonesia, Australia bagian utara, Papua Nugini dan tentu Amerika Selatan," kata Rina, Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Hasil Perikanan KKP.
 
Dengan demikian, peluang penyebaran di Indonesia cukup tinggi. Sebab, pada prinsipnya penyebaran secara alami bisa terjadi pada daerah yang beriklim sama dengan habitat aslinya. Padahal, keseluruhan spesies Arapaima sp itu bersifat invasif. (Jr.)**
.

Categories:Infotech,
Tags:,