Tradisi 'Kurung saat Menstruasi' Wanita Nepal Itu pun tewas

Tradisi 'Kurung saat Menstruasi' Wanita Nepal Itu pun tewas

Tradisi 'Chhaupadi' di Nepal kurung perempuan yang tengah menstruasi di gubuk. (foto - AFP)

Kathmandu - Akibat  menghirup  asap  ketika  dikurung di  sebuah  gubuk  selama  masa haid,  seorang perempuan Nepal akhirnya meninggal. Kejadian itu hanya beberapa minggu setelah kematian seorang ibu dan dua anak, dalam kasus yang sama.
 
Dilansir AFP, Minggu (3/2/2019) banyak warga Nepal memandang perempuan yang sedang menstruasi kotor, dan dipaksa dikurung tidur di gubuk yang jauh dari rumah. Hal itu mengikuti tradisi yang sudah berabad-abad yang dikenal sebagai "chhaupadi".
 
Parbati Bogati (21) ditemukan tewas di gubuk penuh asap di Distrik Doti barat, ketika ibu mertuanya pergi untuk memeriksanya. "Kami menduga dia meninggal karena menghirup asap dan mati lemas karena dia menutup pintu pondok tanpa jendela, dan menyalakan api di lantai untuk menghangatkan badan di malam hari," kata perwira polisi setempat Lal Bahadur Dhami.
 
"Jenazahnya sudah dikirim untuk dilakukan otopsi," kata Dhami. Chhaupadi sebetulnya telah dilarang pada 2005. Namun masih diberlakukan di beberapa bagian Nepal, terutama di daerah barat yang terpencil dan konservatif.
 
Praktek itu terkait dengan agama Hindu dan menganggap perempuan tidak boleh tersentuh selama menstruasi dan setelah melahirkan. Tradisi Chhaupadi membuat perempuan dilarang menyentuh makanan, simbol agama, ternak dan pria.
 
Hanya tiga minggu yang lalu seorang ibu dan dua putranya di Distrik Bajura yang berdekatan meninggal dunia, karena diduga menghirup asap saat menjalani tradisi tersebut.
 
Kematian mereka mendorong penduduk setempat menghancurkan gudang chhaupadi di desa mereka, meski pemerintah setempat tidak mendukung praktik Chhaupadi.
 
Pada tahun lalu, pemerintah Kathmandu memberlakukan hukuman penjara tiga bulan dan denda 3.000 rupee atau setara Rp 420 ribu, kepada siapa saja yang kedapatan menjalankan chhaupadi.
 
Ganga Chaudhary, salah seorang anggota parlemen yang terlibat dalam penyusunan undang-undang, mengatakan, masih banyak yang harus dilakukan untuk menegakkan hukum dan mengubah norma-norma sosial.
 
"Kami menyadari, hanya ketentuan hukum yang tidak cukup untuk mengakhiri praktik semacam tersebut. Kami perlu fokus pada kesadaran dalam mendidik kaum perempuan," demikian Chaudhary. (Jr.)**
.

Categories:Gaya hidup,
Tags:,