Dua Mahasiswi RI Diserang di Australia Diduga Soal Jilbab

Dua Mahasiswi RI Diserang di Australia Diduga Soal Jilbab

Dua mahasiswi Indonesia mendapat penyerangan di Canberra Australia. (foto - Daily Mail)

Canberra - Dua  mahasiswi  pascasarjana  Indonesia  yang  tengah  mengenyam  pendidikan  di  Australia  mengalami penghinaan dan penyerangan, diduga karena mereka mengenakan jilbab. Kedua mahasiswi itu pun dikabarkan telah meninggalkan Canberra usai kejadian itu.
 
Diketahui, kedua mahasiswi yang merupakan muslim itu sedang berjalan ke halte bus ketika mereka didekati oleh dua orang asing yang tidak dikenal sekitar pukul 6 sore waktu setempat, Kamis pekan lalu.
 
Seorang perempuan Australia dan teman prianya dilaporkan menuding mereka sambil memberikan komentar keras tentang pakaian mereka. "Seorang wanita berteriak kepada mereka \Kenapa kamu berpakaian serba hitam? Kenapa kamu masih hidup? Itu tidak adil bagi kami," kata Ketua Himpunan Pelajar Indonesia di Canberra, Welhelmus Poek.
 
Dilansir Daily Mail, Rabu (13/2/19) keduanya mengabaikan ucapan tersebut dan terus berjalan, hingga salah seorang dari mereka dipukul di sisi kepalanya dan menyebabkan telinganya mengalami luka.
 
Kepolisian Wilayah Ibukota Australia (ACT) masih melakukan penyelidikan terhadap penyerangan yang terjadi di Jalan Cooyong Pusat Kota Canberra itu. Pihak berwenang belum menentukan motif di balik pelecehan itu. Namun ada kecurigaan, mungkin terkait ras dan pakaian mereka.
 
"Investigasi terhadap masalah itu masih berlangsung," kata juru bicara kepolisian ACT. "Siapa pun yang menyaksikan insiden itu atau yang memiliki informasi tentang insiden yang dapat membantu polisi, diimbau untuk menghubungi Crime Stoppers,” sebutnya.
 
Setelah serangan itu, salah seorang mahasiswi kembali ke Indonesia untuk sementara, sedangkan yang lainnya memutuskan untuk pergi ke Brisbane dan tinggal bersama anggota keluarganya.
 
Universitas Canberra dan Universitas Nasional Australia, tempat di mana kedua mahasiswi itu menempuh pendidikan mereka menyatakan, turut prihatin dan sedih mendengar mahasiswi mereka menjadi korban penyerangan.
 
"Kami semua terkejut ini terjadi di Canberra, sebuah kota di mana insiden sangat jarang terjadi,” sebut pihak universitas. "Kami bekerja sama dengan kepolisian ACT, kelompok perwakilan mahasiswa dan organisasi masyarakat untuk menjaga kampus dan komunitas kami aman".
 
Poek sendiri berbicara atas nama korban yang masih takut untuk mengungkapkan identitas mereka. "Ini adalah kota yang aman bagi kami, Australia juga merupakan negara yang aman bagi kami," katanya.
 
"Kami mencintai Canberra, negara bagian ini, kota ini sangat menyambut kami. Kami tidak dapat menggunakan ini sebagai bukti untuk mengatakan, Canberra tidak aman bagi kami. Kami masih mencintai kota ini".
 
Sementara itu, Kedutaan Besar Indonesia di Canberra telah mengirim catatan diplomatik ke Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia. Juga telah menghubungi kepolisian ACT dan pemerintah ACT atas nama mahasiswi yang terlibat. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,