Ditangkap, Pelaku Pemerasan lewat Layanan 'Video Call Sex'

Ditangkap, Pelaku Pemerasan lewat Layanan 'Video Call Sex'

Tersangka sindikat pemerasan berinisial SF ditangkap di Sidrap Sulsel. (foto - ist)

Jakarta - Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menangkap seorang tersangka sindikat pemerasan, berkaitan dengan pornografi online (sextortion) melalui layanan video call sex.
 
Menurut Kasubag Opinev Bag Penum Ropenmas Divisi Humas Polri AKBP Zahwani Pandra Arsyad, tim penyidik menangkap seorang tersangka berinisial SF di Sidrap Sulawesi Selatan, pada 6 Februari 2019.
 
"Unit II Subdit I Direktorat Siber Bareskrim Polri awal Februari 2019 berhasil mengungkap kasus tindak pidana sextortion (pemerasan secara online) atau dikenal pornografi online, dengan cara penyediaan jasa video call sex (VCS) lewat media sosial," sebut Pandra dalam konferensi pers di Kantor Bareskrim Jakarta, Jumat (15/2/2019).
 
Diketahui, SF menjalankan aksi bersama dua tersangka lainnya berinisial AY dan VB. Kedua tersangka itu masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Tersangka SF awalnya membuat akun Facebook palsu, dengan menggunakan foto model perempuan yang juga diperoleh dari media sosial.
 
Lewat akun itu, SF mengirimkan permintaan pertemanan kepada calon korbannya untuk menawarkan layanan jasa VCS dengan tarif yang telah ditetapkan. "Tersangka menghubungi korban lewat video call messenger Facebook dan Whatsapp, sebagaimana yang tercantum dalam profil Facebook," katanya.
 
Tersangka lalu merekam korban melakukan panggilan video saat menggunakan layanan yang ditawarkan. Setelah itu, tersangka mengancam akan menyebarkan video itu jika korban tidak membayar sejumlah uang.
 
Pandra menambahkan, diperkirakan ada lebih dari 100 korban yang telah membayar sekitar puluhan juta rupiah. Barang yang disita dari tersangka, antara lain 4 telepon genggam, kartu identitas tersangka, 4 buku rekening, 3 kartu ATM, Apple Watch, SIMcard dan sebuah cincin.
 
Atas tindakannya, tersangka akan dijerat Pasal 29 jo 30 UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, Pasal 45 Ayat (1) Jo Pasal 27 Ayat (1), dan (4) UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
 
Selain itu, Pasal 369 KUHP dan Pasal 3, 4 dan 5 UU Nomor 8 Tahun 2010, tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. tersangka terancam hukuman paling lama 20 tahun penjara. (Jr.)**
.

Tags:,