Banjir Memutus Sejumlah Akses Jalan di Bandung Selatan

Banjir Memutus Sejumlah Akses Jalan di Bandung Selatan

Banjir di Jalan Raya Banjaran - Dayeuhkolot tepatnya di pertigaan jembatan depan masjid Ash-Shofia, Jumat 22 Februari malam. (foto - @ildankh)

Bandung - Meluapnya  Sungai  Citarum  kembali  menyergap  sejumlah wilayah  langganan  banjir  di Bandung  selatan, Jumat (22/2/2019). Genangan banjir dipicu hujan deras yang mengguyur pada Kamis 21 Februari 2019 sore hingga malam.
 
Selain merendam ratusan rumah penduduk, banjir pun menggenangi sejumlah ruas jalan hingga arus lalu lintas terputus karena tak bisa dilewati. Genangan antara lain di Jalan Raya Banjaran - Dayeuhkolot, Jalan Andir - Katapang dan Jalan Anggadireja (Jalan Ciparay - Dayeuhkolot lewat  Baleendah).
 
Berdasarkan informasi, ketinggian permukaan banjir yang menggenangi sejumlah akses lalu lintas itu bervariasi. Di Jalan Raya Banjaran - Dayeuhkolot misalnya, ketinggian permukaan banjir mencapai 30 sentimeter, meski masih bisa dilalui kendaraan.
 
Sedangkan di Jalan Andir - Katapang dan Jalan Anggadireja, praktis tidak bisa dilalui kendaraan. Terputusnya akses jalan itu menyebabkan para pengendara memilih jalur alternatif lain, dan berdampak pada penumpukan kendaraan di jalur alternatif.
 
Menurut sejumlah pengendara, akibat genangan banjir di Jalan Raya Banjaran - Dayeuhkolot, banyak pengguna jalan yang memilih jalur alternatif. Seperti Jalan Rancamanyar dan Jalan Baleendah - Bojongsoang, sehingga terjadi penumpukan kendaraan di jalan alternatif itu.
 
Demikian juga dengan pengendara dari Baleendah menuju Kota Bandung yang tidak bisa menerobos genangan banjir di Jalan Anggadireja. Ketinggian air di jalan itu mencapai 70 sentimeter, sedangkan  banjir di Jalan Andir - Katapang mencapai 1,5 meter.
 
"Banyak pengendara yang berputar arah memilih jalur alternatif menuju Kota Bandung. Saya sudah terjebak kemacetan di Jalan Bojongsoang sejak pagi, karena banyaknya pengendara yang hendak menuju tempat kerjanya," aku salah seorang pengendara Mahmud.
 
Menurutnya, dirinya baru bergerak kurang dari 100 meter akibat penuhnya kendaraan di jalur tersebut. Meski Jalan Raya Banjaran - Dayeuhkolot masih bisa dilalui kendaraan, ia memutuskan untuk tidak menerobos genangan banjir.
 
Pengendara lainnya Komara mengatakan, ia nekat menerobos genangan banjir yang menggenangi Jalan Raya Banjaran - Dayeuhkolot, meski berisiko kendaraan mogok. Hal itu ia lakukan karena di jalur alternatif sudah tidak memungkinkan untuk dilalui.
 
"Saya mau ke Bandung terpaksa menerobos banjir di Jalan Raya Banjaran - Dayeuhkolot karena jalur alternatif sudah macet. Ketimbang saya kesiangan ke kantor, saya nekat menerobos banjir. Motor saya sempat mau mogok karena terendam, namun bisa melaju lagi," katanya.
 
Sejumlah pengendara pun mengaku sudah bosan dengan kondisi banjir yang kerap menerjang kawasan Bandung selatan. Mereka mengharapkan langkah konkret pemerintah, dalam menangani masalah banjir Bandung selatan. (Jr.)**
.

Categories:Daerah,
Tags:,