Transgender Kandidat Perdana Menteri Pertama di Thailand

Transgender Kandidat Perdana Menteri Pertama di Thailand

Pauline Ngarmpring memberikan warna baru dalam dunia politik di Thailand. (foto - Associated Press)

Bangkok - Kehadiran  Pauline  Ngarmpring  memberikan  warna  baru  dalam  dunia  perpolitikan di Thailand, yang selama ini didominasi oleh narasi partai pro-militer dan klan Thaksin Shinawatra. Betapa tidak, Ngarmpring, perempuan transgender pertama yang menyatakan siap menjadi perdana menteri Negeri Gajah tersebut.
 
Dilansir Channel News Asia, Jumat (8/3/2019) perempuan paruh baya itu kini tengah getol berkampanye dan melakukan lobi politik strategis, agar tujuannya tercapai. Di sisi lain, ia kerap menjadi sorotan media karena keputusan beraninya dalam kancah politik.
 
Ia mengaku, telah lama memiliki minat dalam perpolitikan dan sempat mendapatkan tawaran untuk bergabung dengan parpol tertentu. "Politik minat saya sejak lama. Sebagai seorang pria, saya sering diundang untuk bergabung dengan partai politik. Namun saya tidak berada dalam kerangka berpikir yang benar sampai setelah saya beralih," katanya.
 
Meski dinilai berani untuk menjadi kandidat perdana menteri, ia masih khawatir dengan tanggapan publik. "Sebagai wanita, aku merasa nyaman dan tidak memiliki apa pun untuk disembunyikan. Aku siap, tapi apakah orang siap untuk menerima kandidat transgender?" katanya.
 
Sejauh ini, Ngarmpring adalah salah satu dari tiga kandidat perdana menteri dari Partai Mahachon dan tidak dianggap sebagai calon terdepan. Meski bukan kandidat utama, Ngarmpring selalu mendapat dukungan dari komunitas LGBT dan aktivis kesetaraan gender.
 
Ngarmpring dinilai akan mengukir sejarah di Thailand. "Pencalonannya sangat penting karena ia menantang norma tradisional gender dan seksualitas," kata Anjana Suvarnanda dari Anjaree Group, sebuah organisasi hak asasi LGBT+.
 
Meski kami memiliki orang-orang LGBT dalam politik Thailand sebelumnya, tak ada yang menyatakan identitas LGBT mereka secara terbuka, dan belum ada diskusi publik dengan pendekatan positif seperti itu," katanya.
 
Selama ini, Thailand telah membangun reputasi sebagai tempat dengan sikap "santai" terhadap gender dan keragaman seksual, sejak homoseksualitas didiskriminalisasi tahun 1956. Negeri Gajah itu adalah satu di antara negara di Asia, yang secara hukum mengakui pasangan sesama jenis sebagai mitra sipil.
 
Namun demikian, komunitas LGBT menghadapi diskriminasi dan stigma di sekolah, tempat kerja dan fasilitas kesehatan serta sering ditolak oleh keluarga mereka. Ngarmpring memutuskan untuk memulai kehidupan baru sebagai perempuan tiga tahun lalu, saat usianya masih 49 tahun.
 
Sejak saat itu, ia memperkenalkan nama depannya "Pauline". Ia adalah perempuan cerdas yang pernah menjadi reporter berita, promotor olahraga dan menjadi advokat hak-hak kaum LGBT dan kesetaraan gender di negaranya.
 
Lepas dari ambisi Ngarmpring untuk jadi perdana menteri, peta perpolitikan di Thailand seakan tidak terlalu berubah. Banyak pihak mengatakan, pemilu akan tetap dihegemoni oleh partai pengusung Prayut Chan-o-cha dan partai yang dekat dengan Thaksin Shinawatra, meski Mahkamah Konstitusi telah menyatakan bubar Raksa Chart Party. (Jr.)**

 

.

Categories:Internasional,
Tags:,