Lebih 750 orang tewas Saat Siklon Idai Hantam Afrika Timur

Lebih 750 orang tewas Saat Siklon Idai Hantam Afrika Timur

Hantaman Siklon Idai porak porandakan perumahan dan fasilitas umum di Beira Mozambique. (foto - Associated Press)

Beira - Lebih  750  orang  tewas  akibat  badai Siklon  Idai  yang  menghantam  tiga  negara di wilayah Afrika Timur. Korban tewas tersebut ditemukan 10 hari berselang bencana itu terjadi, saat para relawan coba memulihkan pasokan listrik dan air serta mencegah risiko wabah kolera.
 
Dilansir The Guardian, Senin (25/3) di Mozambik misalnya, jumlah korban tewas meningkat menjadi 446 orang. Pada saat bersamaan, sebanyak 259 orang kehilangan nyawa di Zimbabwe dan 56 orang ditemukan meninggal di Malawi.
 
Menteri Lingkungan Mozambik Celso Correia mengatakan, jumlah korban meninggal tersebut masih berupa laporan awal. Kemungkinan besar, jumlah korban tewas bertambah karena banjir belum juga surut.
 
Correia yang juga berperan sebagai koordinator darurat bencana memperkirakan, total korban meninggal di Mozambik bisa melampaui 1.000 orang. Perkiraan itu sebelumnya juga telah disampaikan oleh Presiden Mozambik.
 
Menurutnya, sudah lebih dari sepekan ini, hampir 110.000 orang berada di pengungsian usai badai siklon Idai melanda. Kini, para relawan tengah berjibaku melakukan penyelamatan korban yang masih terperangkap banjir.
 
Helikopter dan perahu pun dikerahkan untuk melakukan evakuasi korban. Sejumlah warga terdampak masih berada di atap rumah mereka dan di pepohonan, ketika mereka coba menyelamatkan diri dari terjangan banjir.
 
Sementara beberapa korban selamat secara swadaya menggali puing menggunakan tangan kosong, untuk mencari orang-orang terkasih. Sementara pemerintah dan lembaga donor menerbangkan bantuan ke lokasi bencana.
 
Saat ini para relawan dan korban bersiap menghadapi risiko penyebaran penyakit, seperti kolera dan malaria. "Kami akan menderita kolera dan malaria. Ini situasi yang tidak dapat dihindari, sehingga pemerintah membuka pusat perawatan kolera," tegas Correia.
 
Komite Palang Merah Internasional telah mencatat, sejumlah kasus kolera di tiga negara yang diterjang badai Siklon Idai. Namun, PBB tidak dapat mengonfirmasi laporan itu. Utusan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), Sebastian Rhodes Stampa mengatakan, kondisi di lokasi bencana secara bertahap membaik.
 
"Setiap hari air surut, sehingga kita bisa menjangkau lebih banyak orang. Setiap hari jalan-jalan terbuka, kami memiliki akses yang lebih baik dan kami dapat memberikan lebih banyak volume bantuan, itu yang terpenting saat ini," kata Stampa.
 
Ia mengatakan, dua pusat layanan kesehatan dan sistem pemurnian air segera dibangun di lokasi bencana. Dua layanan tersebut akan tergabung dalam upaya pemulihan daerah bencana. "Skala kehancurannya luar biasa, bukan hanya karena topan dan banjir, tapi juga karena tanahnya yang lembek setelah diguyur hujan deras yang lama," tambahnya.
 
PBB juga mengerahkan drone untuk mencari korban di daerah terdampak, terutama di Mozambik tengah. Menurutnya, pasokan listrik di mayoritas wilayah terdampak topan di Mozambik masih terputus, sehingga mempersulit upaya penyelamatan.
 
Diketahui, sedikitnya 109.000 orang tinggal di tempat penampungan di Mozambik tengah dan mayoritas berada di Beira dan sekitarnya. Kota Beira sendiri merupakan kota yang paling terdampak terjangan topan.
 
"Namun, sayangnya tempat perlindungan itu berisiko penyakit menular seperti diare dan campak," kata Kepala Kesehatan dan Nutrisi UNICEF James McQuen Patterson. "Karena banyak keluarga kehilangan segalanya, beberapa orang pun tidur di tempat terbuka hingga berisiko pneumonia terutama di kalangan anak-anak," katanya. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,