Korban Tewas Teror Bom di Sri Lanka Telah Capai 207 Orang

Korban Tewas Teror Bom di Sri Lanka Telah Capai 207 Orang

Dampak ledakan bom di salah satu gereja di Sri Lanka. (foto - Getty Images)

Kolombo - Teror  bom  yang  mengguncang  gereja  dan  hotel  mewah di  ibukota  Sri Lanka  sejauh ini telah menewaskan lebih dari 200 orang dan ratusan lainnya terluka, Minggu (21/4/2019). Ini merupakan kekerasan paling mematikan di negara pulau itu, sejak perang saudara berdarah yang berakhir satu dekade lalu.
 
Dilansir Associated Press, Minggu (21/4/2019) Menteri Pertahanan Sri Lanka Ruwan Wijewardena menggambarkan, pemboman itu sebagai serangan teroris oleh para ekstremis agama.
 
Polisi mengatakan, sejauh ini sedikitnya 13 tersangka ditangkap meski tidak ada klaim pertanggungjawaban langsung. Sebagian besar ledakan diyakini sebagai serangan bunuh diri. Ledakan di tiga gereja dan tiga hotel itu meruntuhkan langit-langit dan memecahkan jendela, membunuh para jamaah dan tamu hotel.
 
Orang-orang terlihat membawa korban keluar dari lokasi dengan berlumuran darah. Saksi mata menggambarkan, ledakan kuat diikuti adegan asap, darah, pecahan kaca, alarm berbunyi dan korban menjerit.
 
"Orang-orang terseret keluar. Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. Itu mode panik," kata Bhanuka Harischandra, pendiri perusahaan pemasaran teknologi berusia 24 tahun yang akan pergi dari Kolombo ke Shangri-La Hotel di kota itu untuk sebuah pertemuan saat hotel itu dibom. "Ada darah di mana-mana," sebutnya.
 
Sebagian besar dari mereka yang terbunuh adalah orang-orang Sri Lanka. Namun tiga hotel dan salah satu gereja, St Anthony's Shrine, sering dikunjungi oleh wisatawan asing. Kementerian Luar Negeri Sri Lanka mengatakan, jenazah setidaknya 27 orang asing dari berbagai negara telah ditemukan.
 
Sejumlah orang Amerika termasuk di antara yang tewas, sedangkan Inggris dan Cina mengatakan, mereka juga kehilangan warga negara dalam pengeboman. Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe mengatakan, ia khawatir pembantaian itu dapat memicu ketidakstabilan di Sri Lanka.
 
Ia juga bersumpah untuk memberikan semua kekuatan yang diperlukan dengan pasukan pertahanan untuk mengambil tindakan terhadap pelaku yang bertanggung jawab. Pemerintah juga memberlakukan jam malam nasional dari jam 6 sore hingga 6 pagi.
 
Uskup Agung Kolombo, Kardinal Malcolm Ranjith meminta pemerintah Sri Lanka untuk tanpa ampun menghukum mereka yang bertanggung jawab, karena hanya hewan yang dapat berperilaku seperti itu.
 
Juru bicara kepolisian Ruwan Gunasekara mengatakan, sedikitnya 207 orang tewas dan 450 lainnya luka-luka. Dia mengatakan polisi menemukan tempat persembunyian dan sebuah van yang digunakan oleh para penyerang.
 
Besarnya korban mengenang hari-hari terburuk perang saudara selama 26 tahun di Sri Lanka. Di mana Macan Tamil, kelompok pemberontak dari etnis minoritas Tamil mencari kemerdekaan dari negara mayoritas Buddha itu.
 
Selama perang, Macan Tamil dan pemberontak lainnya melakukan banyak pemboman. Orang-orang Tamil adalah Hindu, Muslim dan Kristen. Sri Lanka, yang terletak di ujung selatan India, berpenduduk sekitar 70 persen beragama Budha, dengan sisanya merupakan penduduk beragama Muslim, Hindu atau Kristen.
 
Sementara itu, ada beberapa insiden pelecehan anti-Kristen yang tersebar dalam beberapa tahun terakhir, tidak ada kejadian yang sebesar apa yang terjadi pada hari Ahad. Sebelumnya tidak ada sejarah militan Muslim yang kejam di Sri Lanka. Namun, ketegangan terus meningkat antara biksu Buddha garis keras dan Muslim. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,