Tangani Penyimpangan Seks Pemkab Garut Turunkan Tim

Tangani Penyimpangan Seks Pemkab Garut Turunkan Tim

Ketua P2TP2A Kabupaten Garut Diah Kurniasari. (foto - ist)

Garut - Maraknya kasus penyimpangan seks yang menimpa belasan anak di bawah umur di wilayah Kelurahan Margawati Kecamatan Garut Kota, menjadi perhatian Pemkab Garut. Untuk menanganinya, Pemkab Garut akan menurunkan tim khusus.
 
"Kita prihatin atas kasus penyimpangan seks yang menimpa belasan anak di bawah umur di wilayah Kecamatan Garut Kota. Sejak awal kasus itu mencuat, kita langsung lakukan penanganan," kata Wakil Bupati Garut Helmi Budiman, Kamis (25/4/2019).
 
Menurutnya, penanganan terhadap anak yang mengalami penyimpangan seks sudah dilakukan sejak sekitar satu bulan terakhir. Antara lain berupa terapi dan pemberian pemahaman, bertujuan agar mereka tak merasa trauma dan tak lagi mengulangi perbuatannya.
 
Terapi katanya, lebih difokuskan terhadap 19 anak yang mengalami langsung penyimpangan seks tersebut. Kondisi mental mereka harus segera dipulihkan, karena mereka masih anak-anak dan mempunyai masa depan.
 
Sebagai bentuk keseriusan penanganan kasus itu, Pemkab Garut sudah membentuk tim khusus, terdiri atas berbagai elemen. Selain Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), yang masuk dalam tim penanganan kasus tersebut.
 
Upaya pemulihan mental para korban yang juga pelaku itu menurut Helmi, perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak termasuk masyarakat. Peran masyarakat dalam hal ini dinilai sangat besar karena sikap salah yang dilakukan masyarakat atas kasus itu, bisa menimbulkan terjadinya hal yang tak diharapkan terhadap pemulihan kondisi mental anak-anak.
 
"Kami juga meminta dengan sangat agar masyarakat tak memvonis buruk perbuatan yang dilakukan anak di bawah umur itu. Jika masyarakat memandang bersalah, hal itu akan sangat memberatkan jiwa anak-anak itu sendiri hingga mereka akan trauma," katanya.
 
Ia mengatakan, peran orangtua juga sangat besar dalam membentuk kejiwaan anak, termasuk menyeimbangkan antara kemajuan teknologi dengan pengawasan. Apalagi dalam kasus yang menimpa belasan anak itu, berawal dari adegan video porna yang terdapat di handphone yang ditonton anak-anak.
 
Diakui, pihaknya kesulitan membuat aturan agar gawai (gadget) tak digunakan oleh anak-anak karena bisa berdampak buruk, apalagi jika tanpa adanya pengawasan orangtua. Oleh karena itu, jalan terbaiknya sikap orangtua harus benar-benar bijak dan tidak pernah lengah dengan aktivitas dan pergaulan anak-anaknya.
 
Ungkapan keprihatinan atas kasus penyimpangan seks yang dilanda belasan anak di bawah umur itu pun disampaikan Ketua P2TP2A Kabupaten Garut, yang juga istri Bupati Garut Diah Kurniasari. Menurutnya, perbuatan penyimpangan seks di kalangan anak-anak korban sekaligus pelaku, dikenal dengan sebutan "kukudaan".
 
Diah menambahkan, menyikapi hal itu P2TP2A lebih fokus untuk melindungi anak-anak agar tidak trauma, dan bisa tetap beraktivitas normal. Selain itu, P2TP2A fokus memberikan rehabilitasi agar kondisi kejiwaan mereka tidak sampai trauma.
 
"Masa depan mereka harus diselamatkan sehingga kita lebih fokus untuk melindungi dan merehabilitasi mereka. Kami tak ingin mental mereka hancur dan masa depannya terbuang begitu saja, apalagi kebanyakan dari mereka masih duduk di bangku sekolah dasar," kata Diah. (Jr.)**
.

Categories:Daerah,
Tags:,