2 TKI Karawang dan NTB bebas hukuman Mati di Arab Saudi

2 TKI Karawang dan NTB bebas hukuman Mati di Arab Saudi

Protes terhadap hukuman mati yang dilakukan pemerintah Arab Saudi. (foto - Anadolu Agency)

Jakarta - Pemerintah   Indonesia  kembali  membebaskan  dua  TKI  dari  ancaman  hukuman  mati  di  Arab  Saudi.  Kedua TKI tersebut yakni Sumartini Bt M Galisung asal Sumbawa Nusa Tenggara Barat, dan Warnah Bt Warta Niing asal Karawang Jawa Barat.
 
Dengan telah keluarnya putusan pembebasan, dua WNI itu segera dipulangkan dan tiba di Jakarta, untuk selanjutnya diserahterimakan kepada pihak keluarga masih-masing oleh Kementerian Luar Negeri.
 
"Kami selalu menerima informasi perkembangan nasib Warnah dari Kemlu. Kami yakin, pemerintah akan perjuangkan Warnah, akhirnya hari itu tiba. Terima kasih buat semuanya," kata Sumi, Ibunda Warnah yang datang langsung menjemput Warnah ke Kemlu.
 
Kedua WNI itu divonis hukuman mati pada 28 Maret 2010, atas dakwaan melakukan sihir dan guna-guna terhadap keluarga majikan atas nama Ibtisam. Keduanya seharusnya bebas dari tahanan akhir tahun 2018. Namun atas upaya hukum dari majikan yang masih keberatan dengan putusan bebas itu, keduanya masih ditahan hingga awal 2019.
 
Upaya majikan untuk menghalangi pembebasan terus dilakukan hingga saat menjelang pembebasan. Menghadapi upaya majikan, KBRI Riyadh tidak tinggal diam. Berbagai upaya dilakukan KBRI, antara lain menunjuk pengacara untuk memberikan pembelaan, serta secara rutin memberikan pendampingan dan kunjungan kekonsuleran.
 
KBRI juga melakukan upaya pendekatan serta mengirimkan beberapa kali surat dan nota diplomatik kepada berbagai pihak di Arab Saudi, termasuk kepada Gubernur Riyadh dan Raja Arab Saudi. Akhirnya pada 21 April 2019 Gubernur Riyadh mengeluarkan surat putusan yang membebaskan keduanya dari tahanan.
 
Sejak tahun 2011 ada 104 WNI yang terancam hukuman mati di Arab Saudi, 87 di antaranya berhasil dibebaskan. Saat ini masih terdapat 11 WNI terancam hukuman mati di Arab Saudi, beberapa di antaranya karena dakwaan melakukan sihir.
 
"Tuduhan sihir umumnya terjadi karena WNI yang bekerja di Arab Saudi membawa benda-benda yang diduga majikan atau aparat hukum Arab Saudi sebagai alat sihir. Antara lain berupa jimat," kata Judha Nugraha, Kasubdit Kelembagaan dan Diplomasi Perlindungan, yang atas nama Kemlu menyerahkan keduanya kepada keluarga.
 
"Hal itu menunjukkan pentingnya mempersiapkan lebih baik WNI kita yang akan bekerja di luar negeri, dengan pengetahuan dasar mengenai hukum dan budaya setempat," katanya. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,