KPK Geledah Ruangan Anggota DPR Muhammad Nasir

KPK Geledah Ruangan Anggota DPR Muhammad Nasir

Juru Bicara KPK Febri Diansyah. (foto - ist)

Jakarta - Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah ruang kerja anggota Komisi VII DPR RI Fraksi Demokrat, Muhammad Nasir. Penggeledahan dilakukan sejak pukul 11.00 hingga 13.00 WIB, Sabtu (4/5/2019).
 
Menurut Juru Bicara KPK Febri Diansyah, penggeledahan terhadap ruang kerja Muhammad Nasir ‎di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta terkait kasus dugaan gratifikasi yang menyeret anggota Komisi VI DPR Fraksi Golkar, Bowo Sidik Pangarso.
 
"KPK melakukan penggeledahan sebagai bagian dari proses verifikasi, terkait informasi dugaan sumber dana gratifikasi yang diterima BSP," kata Febri. KPK menduga‎ ada pemberian gratifikasi dari Muhammad Nasir untuk Bowo Sidik Pangarso, yang diduga berkaitan dengan pengurusan Dana Alokasi Khusus (DAK). "Diduga pemberian pada BSP terkait pengurusan DAK," katanya.
 
Namun demikian, tidak ada barang yang disita dalam proses penggeledahan tersebut. Sebab, tidak ada barang yang diduga berkaitan dengan pokok perkara gratifikasi Bowo Sidik Pangarso.
 
"Ruangan yang digeledah adalah ruangan anggota DPR RI, M. Nasir. KPK tidak melakukan penyitaan dari proses penggeledahan tersebut karena tidak ditemukan bukti yang relevan dengan pokok perkara," tegas Febri.
 
‎Bowo sendiri telah ditetapkan sebagai tersangka penerima suap dan gratifikasi.‎ Bowo Sidik diduga meminta fee kepada PT Humpuss Transportasi Kimia atas biaya angkut yang diterima sejumlah 2 dolar AS per metric ton. Diduga, Bowo Sidik telah menerima tujuh kali hadiah atau suap dari PT Humpuss.
 
Bowo disinyalir menerima suap karena telah membantu PT Humpuss agar kapal milik PT Humpuss digunakan kembali oleh PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog), untuk m‎engangkut pendistribusian pupuk. Sebab, kerjasama antara PT HTK dan PT PILOG telah berhenti.
 
Bowo Sidik diduga‎ bukan hanya menerima suap dari PT Humpuss, tapi juga dari pengusaha lainnya. Total, uang suap dan gratifikasi yang diterima Bowo Sidik dari PT Humpuss maupun pihak lainnya sekitar Rp 8 miliar. Uang itu dikumpulkan Bowo untuk melakukan serangan fajar di Pemilu 2019.
 
KPK telah menyita uang Rp 8 miliar dalam 82 kardus dan dua boks. Sebanyak 82 kardus serta dua boks itu berisi uang pecahan Rp 50 ribu dan Rp 20 ribu, dengan total Rp 8 miliar yang sudah dimasukkan ke dalam amplop berwarna putih. (Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,