Bupati Talaud Umbar Senyum Setelah Diperiksa KPK 4 Jam

Bupati Talaud Umbar Senyum Setelah Diperiksa KPK 4 Jam

Bupati Talaud Sri Wahyumi Maria Manalip umbar senyum seusai diperiksa KPK lebih 4 jam. (foto - ist)

Jakarta - Bupati  non-aktif  Kepulauan  Talaud  Sri Wahyumi  Maria Manalip  jalani  pemeriksaan di Gedung KPK Setiabudi jakarta Selatan, Jumat (10/5/2019). Usai diperiksa sekitar 4 jam, bupati cantik itu keluar dari gedung KPK sekitar pukul 17.40 WIB.
 
Diketahui, Rabu 8 Mei 2019 Sri Wahyumi merayakan ulang tahunnya ke-42. Sontak para wartawan yang sudah menunggu langsung memberikan ucapan selamat. Mengenakan rompi oranye tahanan KPK dan tangan digelangi borgol, Sri Wahyumi tak berkata sepatah kata pun saat wartawan ucapkan selamat ulang tahun.
 
Bupati hanya melemparkan senyum. Sementara Juru Bicara KPK Febri Diansyah menyatakan, satu orang saksi yang direncanakan diperiksa untuk Sri Wahyumi tidak hadir. "Beril Kalalo, mahasiswa saksi SWM tindak pidana korupsi suap terkait pengadaan barang/jasa belum diperoleh konfirmasi terkait ketidakhadirannya," katanya.
 
Sebelumnya, pada Selasa 30 April KPK telah menetapkan Bupati Kepulauan Talaud Sri Wahyumi Manalip sebagai tersangka kasus dugaan korupsi sejumlah proyek di Kepulaun Talaud. Selain Bupati KPK juga menetapkan dua pengusaha lainnya, Benhur Lalenoh dan Bernard Hanafi Kalalo sebagai tersangka.
 
Diduga, ketiga tersangka terlibat dalam kasus suap proyek Pasar Lirang dan Pasar Beo. KPK tidak menutup kemungkinan ketiganya juga terlibat dalam kasus suap sejumlah proyek lainnya. Sri Wahyumi diduga meminta fee sekitar 10 persen kepada kontraktor, terkait dua proyek revitalisasi pasar di Kabupaten Kepulauan Talaud.
 
Berdasarkan informasi, fee 10 persen yang diterima oleh Bupati Talaud berupa barang mewah dan uang tunai Rp 513 juta. Fee yang diberikan pihak kontraktor dari dua proyek revitalisasi pasar itu telah diterima oleh Bupati Talaud Sri Wahyumi Maria dan 5 orang lainnya.
 
"Terjadi komunikasi antara pihak terkait bahwa barang akan diantar ke Bupati Talaud akan diberikan saat ulang tahun Bupati," kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan dalam konferensi pers sebelumnya. Barang mewah itu berupa tas merk Channel senilai Rp 97 juta, jam tangan Rolex senilai Rp 224 juta dan tas Balenciaga senilai Rp 32 juta.
 
Tak hanya tas dan aksesoris mewah, Bupati Talaud juga diduga menerima satu set perhiasan berlian merek Adelle dengan total senilai Rp 108 juta lebih. Bupati Talaud tampaknya sempat protes mengenai jenis fee yang ia terima.
 
Menerima barang mewah sebagai fee, Bupati Talaud sempat minta dibelikan tas branded keluaran rumah mode Hermes. Hal ini diungkapkan Basaria Panjaitan, karena Bupati Talaud mengakui tak sudi punya tas mewah yang sama dengan yang dikenakan pejabat wanita lainnya.
 
"Sempat dibicarakan permintaan tas merk Hermes dan Bupati tidak mau tas yang dibeli, sama dengan tas yang sudah dimiliki oleh seorang pejabat perempuan di sana. Selain Bupati Talaud ada bupati yang perempuan juga di Sulut," kata Basaria Panjaitan.
 
Barang itu dibeli oleh seorang pengusaha sekaligus tersangka pemberi suap bernama Bernard Hanafi Kalalo. Pada Minggu malam 28 April 2019, Bernard bersama anaknya membeli barang mewah itu di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. (Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,