Jurnalis Perempuan Afghanistan Itu Ditembak Mati di Kabul

Jurnalis Perempuan Afghanistan Itu Ditembak Mati di Kabul

Mena Mangal. (foto - FB)

Kabul - Mantan  jurnalis   yang  bekerja  untuk   parlemen  Afghanistan  tewas  ditembak  di  Kabul.  Mena  Mangal  dikenal karena karyanya yang menyajikan pertunjukan di sejumlah jaringan televisi, sebelum ia meninggalkan dunia jurnalisme untuk menjadi penasihat budaya di parlemen.
 
Dilansir NDTV, Minggu (12/5/2019) berdasarkan keterangan Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan Nasrat Rahimi, Mangal ditembak mati di Kabul timur, pada Sabtu 11 Mei 2019 siang. Penyelidikan masih dilakukan, tetapi ia tidak memberikan rincian lebih lanjut.
 
Sejauh ini, tidak ada yang langsung mengklaim bertanggung jawab atas kematian Mangal. Begitu juga tidak segera diketahui mengapa ia menjadi sasaran.
Namun demikian, aktivis hak-hak perempuan Afghanistan terkemuka Wazhma Frogh mengatakan, Mangal baru-baru ini menulis di media sosial bahwa dia merasa hidupnya terancam.
 
Sementara dalam video penuh air mata yang diposting di Twitter, ibu Mangal menyebut sekelompok pria sebagai tersangka pembunuh mengklaim, mereka sebelumnya telah menculik putrinya.
 
Kelompok itu ditangkap karena penculikan, tetapi kemudian menyuap untuk keluar dari penahanan. Kejahatan di Kabul semakin memburuk dalam beberapa tahun terakhir ini, menambah banyak tekanan bagi penduduk di kota di mana serangan teroris sering terjadi.
 
Nasib perempuan di Afghanistan telah menjadi fokus dalam beberapa bulan terakhir. Sebab, banyak orang yang dilanda perang khawatir, hak-hak yang diperoleh dengan susah payah untuk perempuan akan hilang jika AS membuat perjanjian damai dengan Taliban.
 
Selama dua dekade terakhir perang di Afghanistan telah terjadi banyak serangan dan pembunuhan terhadap perempuan di posisi publik. Termasuk pula polisi  wanita dan politisi, pendidik, pelajar serta jurnalis.
 
Beberapa telah dijadikan sasaran oleh para pemberontak yang keberatan dengan perempuan, yang memiliki peran vital dalam kehidupan publik. Sementara yang lain telah diserang oleh kerabat atau anggota komunitas mereka sendiri yang konservatif.
 
Meski ada kemajuan sejak penggulingan Taliban dari pemerintahan pada 2001, perempuan di Afghanistan masih sering terpinggirkan. Afghanistan juga merupakan tempat paling mematikan di dunia bagi jurnalis, yang menghadapi banyak risiko meliput konflik dan menjadi sasaran karena melakukan pekerjaan mereka. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,