Kasus Kekerasan, Putri Raja Salman bakal diadili di Perancis

Kasus Kekerasan, Putri Raja Salman bakal diadili di Perancis

Hassa binti Salman, Putri Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud. (foto - Youtube)

Paris - Hassa  binti  Salman,   salah  seorang  Putri  Raja  Arab  Saudi   Salman  bin  Abdulaziz  Al  Saud  akan  segera  diadili  di Paris bulan depan, terkait kasus kekerasan. Saudara perempuan Putra Mahkota pangeran Muhammad bin Salman itu dituduh dengan sengaja memerintahkan pengawalnya, untuk memukuli seorang pekerja di Ibukota Paris Perancis.
 
Dilansir Straits Times, Kamis (13/6/2019) pengadilan tersebut dijadwalkan akan mengadili Hassa pada 9 Juli mendatang. Kasus terhadap Putri Hassa binti Salman itu berawal dari dugaan penyerangan di apartemen mewahnya, di Avenue Foch Paris barat pada September 2016.
 
Menurut korban, ia dipanggil saudari putra mahkota Arab Saudi itu untuk melakukan sejumlah perbaikan di apartemennya. Ia kemudian memotret sang putri, sebuah tindakan yang memicu kemarahan Putri Hassa. Ia lalu dituduh ingin menjual gambar tersebut ke media.
 
Korban kemudian menuduh sang putri memerintahkan pengawal untuk memukulinya. Majalah Le Point melaporkan, sang putri meneriakkan kalimat "Kill him, the dog, he doesn't deserve to live". Pekerja itu mengatakan, wajahnya dipukuli, tangannya diikat dan ia dipaksa untuk mencium kaki saudari putra mahkota Arab Saudi itu dalam penganiayaan selama berjam-jam.
 
Sejumlah peralatannya pun disita sebelum diizinkan pergi meninggalkan apartemen. Luka-luka yang dialami pria tersebut memang terbilang parah. Akibatnya, korban tidak bisa lagi bekerja selama delapan hari.
 
Sementara itu, sang pengawal Putri Hassa didakwa pada 1 Oktober 2016 dengan kekerasan bersenjata, pencurian, mengeluarkan ancaman kematian dan menahan seseorang di luar kehendaknya.
 
Namun demikian, Putri Hassa kemungkinan akan absen dari persidangan karena ia belum ditangkap berdasarkan surat perintah penangkapan internasional yang dikeluarkan pada 2017. Puteri Hassa diberitakan oleh media Saudi sebagai saudara perempuan Pangeran Muhammad, salah satu pemimpin paling kuat di Timur Tengah.
 
Sosoknya kerap digambarkan melakukan amal dan berkampanye soal hak-hak perempuan. Dikenal dengan inisialnya MBS, Pangeran Muhammad yang berusia 32 tahun telah mengguncang Arab Saudi dan Timur Tengah yang lebih luas sejak ia diangkat menjadi putra mahkota pada tahun 2017.
 
Dianggap sebagai pemimpin de facto di bawah ayahnya yang berusia 82 tahun Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, Pangeran Muhammad telah menampilkan dirinya sebagai seorang pemenang Islam moderat.
 
Namun putra mahkota Saudi menghadapi krisis diplomatik sejak pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, seorang kritikus sengit di konsulat Saudi di Istanbul pada Oktober tahun lalu.
 
Pihak Saudi sendiri awalnya menyangkal mengetahui sesuatu tentang hilangnya Khashoggi, namun akhirnya mengakui bahwa sebuah tim membunuhnya di dalam konsulat. Hal itu digambarkannya sebagai operasi yang tidak melibatkan putra mahkota. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,