Warga keluhkan Putusan Rekayasa Jalur Sukajadi-Cipaganti

Warga keluhkan Putusan Rekayasa Jalur Sukajadi-Cipaganti

Warga keluhkan dipermanenkannya rekayasa jalan kawasan Jalan Sukajadi, Cipaganti dan Setiabudhi. (foto - prfmnews)

Bandung - Uji  coba  rekayasa  lalu  lintas  kawasan  Jalan  Sukajadi,  Cipaganti dan Setiabudhi  selama satu pekan akhirnya ditetapkan permanen. Demikian disampaikan Kasat Lantas Polrestabes Bandung AKBP Agung Reza, setelah menggelar pertemuan dengan Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) beserta warga sekitar di Hotel Grandia Jalan Cihampelas Bandung, Kamis 19 Juli 2019.
 
Pasca-keputusan itu banyak respon muncul, terutama masyarakat sekitar dan warga netizen yang menyampaikan protes dan mengaku tidak setuju atas kebijakan itu. Seperti dituturkan Rini, warga Coblong saat on air di PRFM.
 
Ia menyampaikan tidak setuju atas adanya keputusan itu. Rini yang merupakan warga Jalan Hegar Asih mengeluhkan dampak rekayasa lalu lintas itu. Akses menuju rumahnya harus jauh memutar dan banyak pengendara motor yang melintas ke daerahnya.
 
Rini berharap, rute jalur Sukajadi - Cipaganti diubah seperti semula. "Kaget rekayasa jalur itu dipermanenkan. Dengan rekayasa, akses menuju rumah saya memutar jauh, selain jadi banyak motor yang lewat ke wilayah saya. Ini kan rawan bagi anak kecil. Pertimbangkan dulu jangan main resmiin aja," katanya.
 
Hal senada juga disampaikan Deni, warga Cimahi yang berkantor di Jalan Sejahtera, sehubungan dengan arah Pasteur jadi macet, ia lebih memilih lewat Gegerkalong.  "Awal ujicoba dari arah Pasteur macet, saya harus dua jam ke kantor," keluhnya.
 
Pada hari berikutnya ia lebih memilih lewat Gerlong, karena ke arah bawah Setiabudi lancar. "Saya lebih setuju kalau tengahnya Jalan Cipaganti jadi dua jalur. Jadi yang ke atas Jalan Sukajadi dan ke bawah jalan Cihampelas, tengahnya jadi main road," tegasnya.
 
Terkait dengan dipermanenkannya rekayasa jalan tersebut, warganet Twitter dan Instagram pun banyak menyampaikan protes. Sebagian besar dari warganet tidak setuju, sehingga mereka mengimbau pihak berwenang untuk kembali meninjau kebijakan itu.
 
Sementara itu, anggota Komisi C DPRD Kota Bandung dari Fraksi Partai Hanura Gagan Hermawan mengatakan, jika dampak dari permanennya rekayasa itu merugikan warga, harus ada evaluasi kembali. Dishub bersama Satlantas Polrestabes Bandung bisa mencari solusi lain untuk mengurangi kemacetan atas  keputusan itu.
 
"Namun jika ternyata benar mengurangi kemacetan di luar sekitar wilayah rekayasa itu saya dukung," katanya. Ia mengaku, banyak anggota dewan yang juga mengeluhkan kurangnya sosialisasi soal perubahan jalur di kawasan Sukajadi, Setiabudi dan Cipaganti itu.
 
Mereka umumnya tidak menerima dampak adanya penambahan waktu tempuh, khususnya dari Pasteur ke kantor DPRD Kota Bandung di Jalan Sukabumi. "Selama uji coba pun sangat banyak keluhan, termasuk dari teman-teman DPRD," katanya.
 
Menurut Gagan, Komisi C DPRD Kota Bandung akan segera melakukan rapat internal dengan Dishub dan Satlantas Polrestabes Bandung, menimbang adanya potensi dampak kemacetan dan ekonomi dari keputusan dipermanenkannya jalur itu.
 
Di sisi lain, Kasatlantas Polrestabes Bandung AKBP Agung Reza mengaku, meski Jalur Sukajadi - Cipaganti sudah dipermanenkan, pihaknya tetap menampung aspirasi dari warga khususnya terkait kemacetan di daerah penunjang. (Jr.)**
.

Categories:Bandung,
Tags:,