Pengelola Memastikan Tangkuban Parahu Aman Dikunjungi

Pengelola Memastikan Tangkuban Parahu Aman Dikunjungi

Kawah Gunung Tangkuban Parahu Jabar. (foto - blog)

Bandung - Taman  wisata  alam  (TWA)  Tangkuban  Parahu  membantah  kabar  mengenai  adanya  peningkatan   aktivitas vulkanik di kawasan itu. Gunung Tangkuban Parahu di Kabupaten Bandung Barat Jabar itu pun, dalam kondisi aman dan sangat kondusif.
 
Demikian disampaikan Direktur Utama PT Graha Gani Putra Persada (GRPP) Putra Kaban, menyusul munculnya kabar mengenai imbauan kepada wisatawan untuk tidak mendekati kawah yang berada di kawasan Tangkuban Parahu.
 
"Sekarang ini orang-orang tidak melakukan check and recheck, langsung saja memberitakan, padahal tidak tahu keadaan yang sebenarnya. Sumbernya pun terkadang tidak jelas," kata Putra, Selasa (23/7/2019).
 
Menurutnya, GRPP menyiapkan sekitar 30 tenaga keamanan setiap harinya untuk memantau aktivitas vulkanik di TWA Tangkuban Parahu. Selain memastikan kenyamanan para wisatawan dan warga sekitar, puluhan tenaga keamanan itu pun selalu menginformasikan aktivitas vulkanik yang terjadi di Tangkuban Parahu. 
 
"Kondisi di Tangkuban Parahu sangat bagus. Saya setiap hari bisa 20 kali monitoring (pengawasan). Meski saya tidak sedang berada di sana, saya selalu berkoordinasi dengan petugas di lapangan," katanya.
 
Seperti diketahui sebelumnya, aktivitas vulkanik Gunung Tangkuban Parahu dikabarkan kembali meningkat. Hal itu terpantau sangat jelas secara visual dari pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi(PVMBG), pada Senin 22 Juli.
 
Asap kawah utama bertekanan lemah hingga sedang dan teramati berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal. Berdasarkan hasil rekaman seismograf PVMBG pada 21 Juli 2019, terpantau terjadi 425 kali gempa hembusan.
 
Sementara terjadi dua kali gempa tremor harmonik, tiga kali gempa low frequency, tiga kali gempa vulkanik dalam dan tiga kali gempa tektonik jauh. "Evaluasi aktivitas Gunung Tangkuban dalam beberapa hari ke depan akan selesai, saat ini data masih terus dikumpulkan dan dianalisis," kata Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api Dr. Hendra Gunawan.
 
Menurut Hendra, dua minggu lalu gempa hembusan lebih sering terjadi. Meski demikian, kejadian itu pernah terjadi pada 2017 dan 2018 lalu. "Kita belum tahu apakah surutnya muka air tanah karena musim kering turut berpengaruh. Beberapa tahun ke belakang gempa hembusan untuk periode bulan tertentu pernah seperti ini juga," katanya.
 
Pada intinya, hal itu bergantung kapan ada perubahan muka air tanah, dan naik turunnya muka air tanah bergantung pada musim. Namun, ini semua baru dugaan karena evaluasi dan analisis kami belum final," tegasnya.
 
Untuk sementara ini, pihaknya merekomendasikan agar warga atau wisatawan tidak melakukan mendekati pendakian ke Kawah Ratu dan Kawah Upas, karena adanya gas-gas vulkanik yang berbahaya bagi manusia.
 
"Tidak diperbolehkan juga menginap atau berkemah di sekitar kawasan kawah aktif. Sebaiknya pengelola dan wisatawan mewaspadai terjadinya letusan fratik yang tiba-tiba, tanpa didahului gejala vulkanik yang jelas," tambahnya. (Jr.)**
.

Categories:Wisata,
Tags:,