Beijing Serukan Demonstran di Hongkong Terancam Binasa

Beijing Serukan Demonstran di Hongkong Terancam Binasa

Aksi demontrasi di Hongkong terus meluas. (foto - Bloomberg)

Beijing - Pemerintah  Cina  mengeluarkan  peringatan  keras  terhadap pengunjuk rasa di Hongkong untuk tidak "bermain api" dan mengira pemerintah pusat bersikap lemah. Bahkan, Cina berjanji akan membawa aktor intelektual aksi demo itu ke pengadilan.
 
Namun, belum ada ancaman Cina untuk mengerahkan pasukan, sesuatu yang dikhawatirkan oleh masyarakat Hongkong. Beijing meminta masyarakat Hongkong untuk membantu memulihkan tatanan sosial kota itu, dan menghentikan kekacauan akibat provokasi demonstran "radikal".
 
Dilaporkan kantor berita Xinhua, Hongkong tidak tahan dengan kekacauan dan kekerasan karena akan menelan "konsekuensi yang tidak terpikirkan". "Setiap orang di Hongkong perlu berhenti sejenak dan memikirkan, apakah Hongkong dapat menahan penderitaan, kekacauan dan pengorbanan kepentingan publik. Rakyat tidak seharusnya disandera dan menghadapi kekacauan sosial".
 
Hongkong saat ini menuju resesi akibat aksi demo yang memperparah dampak perang dagang AS vs Cina. Aksi demo yang makin keras dan anarkis itu membuat masyarakat terbelah. Saat ini mulai muncul gerakan tandingan setelah kepentingan masyarakat mulai terganggu oleh berbagai aksi, untuk melumpuhkan transportasi kota.
 
Juru bicara Partai Komunis mengatakan, pemerintah pusat akan tegas mendukung tindakan otoritas Hongkong, untuk menegakkan hukum dan menjaga ketertiban. Seperti diketahui, gelombang demo Hongkong sepanjang dua bulan telah membuat negara semi-otonom itu dilanda ketidakpastian politik dan ekonomi.
 
Aksi demo yang berawal dari penolakan RUU ekstradisi itu melebar ke masalah politik untuk menjatuhkan pemerintahan kepala eksekutif Carrie Lam. "Kami ingin memperingatkan kepada semua 'penjahat' untuk tidak pernah salah menilai situasi dan keliru menilai kami bersikap lemah," kata Kantor Pemerintah Cina Urusan Hongkong dan Makau.
 
"Kelompok kekerasan radikal yang kecil berada di garis depan aksi protes bersama dengan beberapa warga baik hati, yang telah salah arah dan dipaksa untuk bergabung," lanjut pernyataan dokumen yang dikaitkan dengan dua pejabat, Yang Guang dan Xu Luying.
 
Disebutkan, kelompok anti-Cina merupakan dalang di belakang layar yang telah secara terbuka dan berani mendorong para pengunjuk rasa, untuk berada dalam kancah pertempuran. "Kami ingin ingatkan kepada sekelompok kecil penjahat serta pasukan kotor di belakang mereka. Jika bermain api akan binasa," demikian pernyataan kantor itu.
 
Demo Hongkong berkembang pada situasi yang diwarnai berbagai kekerasan, pembangkangan publik, mogok massal hingga anarki Pada aksi demo akhir pekan lalu, bendera Cina di pelabuhan diturunkan  lalu dibuang ke laut, yang memancing kemarahan publik Cina daratan.
 
Seperti diketahui, demo berawal dari penolakan RUU ekstradisi yang memungkinkan pelaku pelanggaran untuk diekstradisi ke negara, yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Hongkong, termasuk Cina daratan.
 
Pemerintah eksekutif Hongkong kemudian menangguhkan RUU itu sepekan setelah aksi berlangsung, dan menegaskan RUU itu telah mati. Namun, penolakan RUU berubah menjadi gerakan yang menuntut reformasi demokrasi di Hongkong, serta memaksa pemerintah untuk mundur.
 
Permintaan itu dilawan keras oleh Carrie Lam yang menegaskan, tidak akan meladeni permintaan itu dan akan melakukan penangkapan terhadap aktivis yang melanggar hukum. Sejauh ini, 82 orang ditangkap menyusul penangkapan puluhan orang dalam sejumlah aksi demo sebelumnya.
 
Kepala Eksekutif Hongkong Carrie Lam berbicara kepada pers terkait membesarnya eskalasi demo Hongkong, awal pekan ini. Carrie Lam Cheng Yuet-ngor memperingatkan para demonstran anti-pemerintah, mereka menyeret kota itu ke "jalan yang tidak dapat kembali".
 
Menurut Carrie Lam, kerusuhan sipil sebagai serangan terhadap kedaulatan Beijing, pada "satu negara, dua sistem" dan upaya untuk menghancurkan Hongkong. Lam juga menuduh pemrotes berjudi dengan nyawa 7 juta orang, dan membuat kota itu menjadi "tidak aman dan tidak stabil".
 
Untuk itu, ia tetap ngotot tidak akan menerima tuntutan para pendemo yang meminta mengundurkan diri. Protes yang terjadi bukan tentang pemerintahannya atau RUU, ketika wartawan bertanya apa yang akan ia lakukan untuk menenangkan kerusuhan sosial.
 
"Hongkong selama ini kota teraman di dunia. Namun serangkaian tindakan yang sangat keras itu mendorong Hongkong ke situasi yang sangat berbahaya. Beberapa aktivis ekstrem telah mengubah sifat (protes) itu dengan cara-cara kekerasan," katanya.
 
Lam mengutuk pengunjuk rasa yang meneriakkan "Bebaskan Hongkong" dan "revolusi zaman kita" serta melemparkan bendera Cina ke laut. "Tindakan itu menantang kedaulatan nasional, mengancam satu negara, dua sistem dan akan menghancurkan kemakmuran dan stabilitas kota," tegasnya.
 
Sejumlah bank besar Hongkong menutup cabang saat kekacauan terjadi dan membuat ekonomi Hongkong memburuk. "Apakah kita harus bertaruh dengan kehidupan 7 juta orang dan masa depan kota," katanya. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,