Tawuran Dipicu Tingginya Tekanan Hidup

Tawuran Dipicu Tingginya Tekanan Hidup

ilustrasi

Jakarta - Pengamat psikologi sosial, Ahmad Chusairi menyatakan, aksi tawuran warga yang sering terjadi khususnya di DKI Jakarta disebabkan oleh semakin tingginya tekanan hidup.
 
Tekanan hidup bisa menjadikan energi yang membutuhkan pelampiasan. Sedangkan cara yang paling mudah untuk melampiaskan energi tersebut, yakni dengan me;akukan kekerasan, salah satunya tawuran.
 
"Karena tekanan hidup, lalu stres dan mencari ajang untuk bisa mengaktualisasikan diri, yakni dengan berantem," kata Ahmad, Senin (1/12).
Dia menambahkan, tekanan hidup dapat menggambarkan demografi masyarakat Jakarta. Bagi warga yang berpendapatan rendah, memiliki tingkat kerentanan tinggi dalam melakukan kekerasan. Sedangkan, masyarakat yang memiliki kecukupan ekonomi, secara psikis akan jarang menempuh jalur kekerasan dalam menghadapi persoalan.
 
"Bagian dari problem kemiskinan sebenarnya. Kalau punya kemampuan (ekonomi) cukup, mereka akan menghindari keributan," tegasnya.
Selain itu, faktor kekerasan juga dipengaruhi oleh tata kota Jakarta yang selama ini masih terkesan kacau. Banyaknya permukiman di gang-gang sempit, dinilai sebagai salah satu penyebab kemunculan stres. Faktor lain yang dapat memantik kekerasan warga, minimnya sarana dan prasana gratis bagi warga.
"Kalau dari keluarga yang kurang mampu, lalu kesulitan memenuhi kebutuhan tersier, ditambah dengan situasi lingkungan ya bisa meledak (potensinya)," tegasnya.
 
Untuk itu, Ahmad menyarankan pemerintah melakukan kegiatan yang dapat meminimalisir stres yang dialami warga Jakarta. "Ya kegiatan yang tidak membutuhkan biaya, jadi mereka bisa mengaktualisasikan diri tanpa berbayar," tuturnya.
Seperti diberitakan, Minggu 30 November kemarin warga Jalan Tambak, Manggarai terlibat tawuran. Bahkan satu orang dikabarkan menjadi korban lantaran terkena panah di bagian perut. (Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:kerusuhan,