Tangkuban Parahu Diguyur Hujan seusai Warga Salat Istiska

Tangkuban Parahu Diguyur Hujan seusai Warga Salat Istiska

Warga salat istiska di bibir Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu. (foto- ist)

Bandung - Kawasan  Gunung  Tangkuban  Parahu  diguyur  hujan  deras  yang  hingga  saat  ini  masih  mengalami  erupsi. Kawah Ratu pun masih mengeluarkan asap putih, meski tidak terlihat jelas karena tertutup kabut, Selasa (27/8/2019).
 
Direktur PT Graha Rani Putra Persada (GRPP) Putra Kaban, selaku pengelola Gunung Tangkuban Parahu merasa bersyukur atas turunnya hujan yang mengguyur kawasan tersebut. "Alhamdulillah bisa turun hujan setelah kami dan warga serta para santri mengadakan istigasah dan salat istiska," katanya.
 
Warga dan para santri pun langsung berdoa menghadap ke Kawah Ratu begitu hujan mereda, untuk meminta agar erupsi Gunung Tangkuban Parahu bisa segera berhenti. Perwakilan dari santri itu pun menyiramkan air zam-zam ke bibir Kawah Ratu.
 
"Hujan ini adalah buah doa dari jamaah muslim, kami meminta hujan agar di sini bisa tenang dan erupsi bisa berhenti agar kami dan pedagang bisa kembali beraktivitas seperti sediakala," katanya.
 
Menurut Ustaz Yandi yang memimpin jalannya doa, salat Istiska tersebut memang disyariatkan di dalam agama Islam untuk meminta hujan. "Saya berharap Gunung Tangkuban Parahu bisa segera dibuka dan kita sama-sama bisa beraktivitas untuk mencari nafkah," katanya.
 
Sementara itu, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kasbani menyatakan erupsi Gunung Tangkuban Parahu kali ini merupakan yang paling lama dibandingkan dengan erupsi beberapa tahun lalu.
 
Menurutnya, pemicu dari erupsi yang cukup lama itu karena sejak satu bulan lalu aktivitasnya sudah tinggi, sehingga kondisi gunung hingga saat ini masih terus mengalami erupsi. "Ini erupsi cukup lama, karena waktunya sudah sekitar satu bulan. Aktivitasnya masih tinggi, tapi rekomendasi jarak amannya masih di radius 1,5 kilometer," katanya.
 
Sejauh ini, aktivitas vulkanik Gunung Tangkuban Parahu juga masih mengalami gempa tremor yang terekam dari seismograf dengan amplitudo 15 hingga 40 milimeter dan dominan 20 milimeter. "Dari sisi deformasi, seismisitas meningkat hingga terjadi erupsi pada 26 Juli lalu pada 2 Agustus erupsi lagi sampai saat ini," katanya. (Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,